SUDAHKAH BERTENGKAR HARI INI?

(dimuat di majalah BGKMI no 526,ISBN 0854-5448)

Melempar  Sandal?

 

Judul artikel kali ini sepertinya kok tidak sopan amat ya? Banyak yang meminta dan menganjurkan kita untuk berdamai, ini malah menantang bertengkar.

 

Beberapa waktu yang lalu, saya sedih saat seseorang remaja mengatakan kepada saya, bahwa salah satu ciri pernikahan harmonis adalah tidak adanya pertengkaran. Saya tidak tahu ia mendapat teori dari mana. Jelas saja ini membuat sedih dan kemudian jadi paham tentang banyaknya orang yang mudah kawin-cerai di saat sekarang. Jangan-jangan karena mereka berpikir, bahwa pertengkaran adalah awal ketidakharmonisan sebuah hubungan.

 

Dilihat dari arti katanya, maka bertengkar itu adalah berbantahan. Artinya, kedua belah pihak memiliki pendapat yang berbeda dan mereka saling mempertahankan pendapatnya. Karena belum menemukan titik temu, maka kedua belah pihak akan semakin seru dalam berbantahan.

 

Silakan diperiksa dan diteliti, tidak ada makna ‘berkelahi’, ‘adu kekuatan fisik’ atau  “melempar sandal’ dalam definisi bertengkar. Cukup berbantahan saja.

 

Bagai Sendok dan Garpu

Mari saya ajak Pembaca untuk mengingat-ingat pengalaman kita.

 

Pernahkah kita bertengkar dengan orang lewat yang tidak kita kenal? Wah, kalau pernah, berarti status kita “waspadalah…waspadalah”. Itu berarti ada gangguan, entah pada kita atau pada orang tersebut. Maksudnya adalah, tidak mungkin kita bertengkar dengan orang yang tidak kita kenal.

 

Bahkan jika kita terinjak tanpa sengaja oleh orang lain. Tentu kita dengan iklas memaafkannya tanpa marah. Bagaimana jika yang tidak sengaja menginjak kaki kita ini adalah suami/istri kita? Pasti akan menggunakan kata-kata dan tanda seru untuk menegurnya,bukan?

 

Bahkan  sering sekali kita bertengkar dengan pasangan, dengan sahabat bahkan dengan anak sendiri. Mengapa demikian? Karena kita akrab dengan mereka. Di dalam hubungan yang akrab, ada interaksi yang intens antara kita dengan orang tersebut.

 

Ibaratnya, orang akrab itu seperti sendok dan garpu. Dengan seringnya mereka bersama, maka akan ada banyak benturan. Tetapi benturan antara sendok dan garpu, tidak akan memecahkan piring dan punya satu tujuan, yaitu sama-sama berusaha memasukkan makanan ke dalam mulut kita dengan mudah.

 

Maka, mana mungkin hubungan yang tidak akrab akan menimbulkan pertengkaran? Justru pertengkaran menunjukkan bahwa kita berhubungan baik  dengan orang itu. Akan tetapi pertengkaran kita tidak akan merusak persahabatan dan memiliki tujuan untuk sama-sama mencapai suatu goal yang lebih indah. Bagai kerja sama sendok dan garpu untuk memasukkan makanan ke dalam mulut kita.

 

Tidak Perlu Ngumpet

Banyak orang mengatakan bahwa jangan pernah orangtua bertengkar di depan anak-anaknya. Akan tetapi kali ini, saya ingin mengajak Pembaca tidak perlu ngumpet lagi jika bertengkar. Asal saja, bertengkarnya seperti sendok dan garpu.

 

Dengan melihat orangtuanya bertengkar, anak akan belajar bahwa :

 

1.      1. Ayah dan Ibu bisa saja memiliki pendapat yang berbeda. Dengan begitu, ia paham bahwa ayahnya yang kepala keluarga mau memberi kesempatan kepada ibunya untuk berbeda pendapat dalam memilih pakaian, memilih tempat untuk berlibur atau berbeda selera dalam memilihkan sekolah anak-anaknya.

 

2.       2. Dalam bertengkar, tidak ada saling mengejek. Tunjukkan kepada anak, bahwa saat kita bertengkar, kita memiliki tujuan agar orang lain memahami perasaan kita dan bukan mengritik orang lain. Daripada mengatakan ,”Kamu memang egois” lebih baik mengatakan,”Saya sedih karena saya merasa tidak kamu perhatikan.”

 

3.       3.Tidak ada pemotongan pembicaraan saat bertengkar. Tunjukkan kepada anak, bahwa walau kita bertengkar namun kita tetap sabar mendengar lawan bicara kita menyelesaikan pembicaraannya.

 

4.       4.Tidak meninggalkan lawan bicara dengan emosional. Biarlah anak melihat ayah-ibunya  tidak ada yang secara emosional pergi atau membanting telepon saat lawan bicara sedang bicara. Dengan begini, anak belajar bahwa saat kesalpun seseorang harus mengendalikan emosinya.

 

5.       5.Jangan sungkan untuk minta maaf atau minimal akhirnya menyetujui pendapat ‘lawan’, dengan rela hati. Sehingga anak paham, bahwa akhir pertengkaran adalah bertemunya dua pendapat yang berbeda dengan damai bukan cerai.

 

Harmonious outside, cold inside?

Ada seorang  pendeta yang mengatakan bahwa ia selalu menanyakan kepada setiap calon mempelai,apakah mereka pernah bertengkar. Kalau dijawab, mereka belu m pernah bertengkar, maka pendeta ini minta agar hari pernikahan mereka diundur, sampai mereka bertengkar.

 

Apa maknanya? Dengan bertengkar, orang akan lebih mengenal pasangannya. Sehingga kelak ia tidak mudah menjadi kaget, bingung dan heran (ora kagetan, ora bingungan, ora gumunan-bahasa jawa), melihat pasangannya saat marah. Jika akhirnya setelah bertengkar mereka tetap akan menikah, itu menunjukkan bahwa hubungan mereka adalah hubungan yang kuat, akrab dan dekat.

 

Setiap konflik yang terselesaikan dengan damai, itu menunjukkan hubungan Anda dengan orang lain sedang mengalami pertumbuhan. Justru jika kita tidak pernah bertengkar dengan seseorang, itu menunjukkan bahwa kita memilki hubungan yang ayem-adem (damai tapi dingin).

 

Banyak suami-istri yang nampak ayem di luar tapi adem, bahkan beku  di dalam, karena tidak saling bertegur sapa. Kita tidak ingin hubungan kita dengan keluarga akan menjadi seperti itu,bukan?

 

Periksa saja hubungan Tuhan Yesus dengan murid-muridNya. Pasti banyak terjadi silang pendapat. Tapi toh semua itu membuat mereka saling merindukan dan dekat. Selanjutnya kedekatan ini membuat mereka saling memahami keinginan masing-masing.

 

Biarlah hubungan kita dengan keluarga, kerabat dan sahabat  selalu hangat kadang panas, namun semuanya membuat kita makin naik kelas .

 

Oya, tulisan saya kali ini tidak panjang lebar, dengan tujuan  memberi kesempatan kepada Pembaca untuk lebih banyak merenungkannya. Kalaupun ada Pembaca yang tidak setuju dengan pendapat saya ini, silakan mengajukan jadual untuk kita bertemu dan berbantahan. :)  Bukankan berbantahan menunjukkan bahwa hubungan kita akrab? SELAMAT BERTENGKAR SEHAT!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: