ANTARA CINTA DAN DUSTA

(dimuat dalam BGKMI edisi April 2012)

TAK PANDANG BULU

Kekerasan memang banyak jenisnya. Dari kekerasan fisik, seksual hingga kekerasan psikis (yang biasanya berupa kata-kata yang menyakitkan hati).  Pelakunya juga bisa laki-laki, perempuan, bahkan anak-anak. Lantas, siapa saja korbannya? Korban memang kebanyakan adalah perempuan atau anak-anak, namun tidak jarang para pria juga menjadi korban dari kekerasan. Pada intinya, siapa saja bisa menjadi pelaku dan siapa saja bisa menjadi korban kekerasan. Tidak memandang status sosial, pendidikan juga ekonomi.

MENGAPA AKU DAN BUKAN DIA?

“Jika memang siapa saja bisa menjadi korban, mengapa temanku tidak menjadi korban dan malah aku yang jadi korban?” Kira-kira begitu  ratap seorang istri yang masih muda usia,sebut saja namanya  Sisi. Ia mengeluh kepada sahabtanya,karena belum juga satu tahun menikah, namun suaminya sudah bersikap kasar kepadanya. Awalnya suami sering melontarkan kata-kata yang kasar (seperti “kamu bodoh”), namun tidak lama ditambah dengan menjadi perlakuan yang kasar, seperti memukul, menjambak dan kekerasan dalam seksual.

Sampai saat ini, Sisi belum melaporkan tindakan suaminya ini kepada siapapun, hanya  berani mengeluh kepada sahabat yang telah akrab sejak mereka duduk di SMU. Sasa, sang sahabat, tidak terlalu kaget dengan cerita Sisi. Mengapa ? Karena ia tahu, Sisi telah berpacaran dengan 3 orang sebelum bertemu dengan suaminya, dan semuanya melakukan kekerasan kepada Sisi!

Kekerasan dalam pacaran yang dialami Sisi adalah mulai dari harus membayari saat makan, harus mau menuruti semua kata pacar, sampai-sampai tidak boleh punya teman lelaki. Pacarnya itu sepertinya baik dengan mengantar-jemput Sisi, namun rupanya ada niat yang tidak baik, yaitu membatasi pergaulan Sisi. Akibatnya Sisi yang dulu aktif di berbagai bidang, menjadi merosot di segala aspek.

Untungnya Sisi bisa putus dengan mereka semua. Sasa kemudian lega, karena ada pria yang berminat serius menikahi Sisi. Dengan menikah, Sasa berharap kehidupan Sisi akan tenang seperti kehidupannya bersama sang suami. Namun ternyata kekerasan kembali dialami Sisi.

Benarkah sudah nasib Sisi selalu bertemu dengan pelaku kekerasan? Mengapa bukan Sasa yang mengalami kekerasan?

KARENA AKU BEGINI…

Banyak artikel yang membahas tentang pelaku kekerasan. Dari penyebab seseorang melakukan kekerasan hingga terapi yang bisa untuk mengurangi keinginan melalukan kekerasan. Namun menurut pengamatan saya, sesuatu terjadi bukan hanya karena niat dari pelaku, namun juga karena ada karakteristik tertentu dari si korban.

Jika melihat kisah nyata tentang Sisi, pasti Anda juga sepakat, mengapa Sisi yang mengalami dan bukan semua perempuan atau semua pria? Ya, karena Sisi memiliki karakteristik tertentu. Berikut karakteristik tersebut, semoga kita tidak termasuk di dalamnya.

  1. Adanya ketimpangan peran. Dari awal Tuhan sudah memberikan peran yang berbeda kepada lelaki dan perempuan. Suami adalah kepala istri, namun bukan berarti istri harus tunduk kepada semua lelaki. Jika terjadi demikian, maka para perempuan tidak bisa mengembangkan potensi dirinya, karena selalu merasa harus lebih rendah dibanding pria. Inilah yang membuat perempuan tidak produktif sehingga ia rendah diri, dan mudah sekali mendapat kekerasan.      Demikianpun para lelaki yang mendapat kekerasan dari perempuan, seringkali disebabkan si laki-laki itu tidak berperan penuh seperti seharusnya laki-laki. Misalnya saja, ia tidak menjalankan perannya sebagai kepala keluarga.
  2.  Memiliki konsep yang salah tentang cinta. Banyak korban kekerasan beranggapan bahwa jika  ia rela menerima perlakuan kasar dari orang yang dekat dengannya  , itu dapat dikatakan tanda cinta. Bukankah cinta itu pengorbanan? Pendapat ini menyedihkan sekali,bukan? Memang benar, cinta butuh pengorbanan, namun pengorbanan agar  semua menjadi lebih baik. Bukan berarti membiarkan sesuatu yang tidak baik terus berlangsung. Adanya cinta seharusnya membuat kita berani dengan tegas melawan kekerasan.
  3. Terpesona dengan siklus cinta dan dusta. Biasanya setelah melakukan kekerasan, pelaku akan meminta maaf kepada korban bahkan jika itu pasangan suami-istri, seoalah korban diajak kembali ke masa bulan madu. Korban menjadi terpesona dan segera memaafkan pelaku. Rupanya siklus ini akan terus berlanjut, karena kemudian tidak lama lagi si pelaku melakukan kekerasan lagi dan begitu seterusnya.
  4.  Masokis-feminin. Wah apa itu? Masokis adalah sebutan bagi orang yang suka menderita . Dia puas sekali jika bisa menurut, sedih bahkan luka demi pasangannya. Biasanya orang dengan karakter masokis tidak akan merasa mendapat kekerasan, walau sebenarnya ia telah menjadi korban. Seringkali perempuan secara tidak langsung dituntut untuk bersikap masokis, agar dianggap feminine. Tentu saja hal ini sangat menyedihkan.
  5. Dependen. Korban kekerasan kebanyakan memiliki sifat yang tergantung dengan orang lain. Ia tidak bisa mandiri, tidak asertif dan tidak punya inisiatif. Ciri yang paling mudah dilihat adalah ia sering mengatakan.”terserah kamu deh, aku ngikut aja.”  Orang dengan tipe ini, sudah pasti membuat orang lain geregetan sehingga  melakukan kekerasan padanya.

BANGUNLAH JIWANYA, BANGUNLAH BADANNYA.

Lantas, apa saran untuk para korban atau orang-orang yang memeiliki karakter sebagai korban? Jawabannya jelas, yaitu bangunlah jiwanya dan bangunlah badannya. Tentu kita tidak asing dengan kata-kata itu,bukan? Ya, kata-kata itu sering kita nyanyikan namun kadang kita lupa maknanya.

Anak perempuan saya,Evin, juga pernah menjadi korban kekerasan temannya di sekolah (bulliying). Dia jadi malas sekolah dan selalu takut bertemu pelaku.  Setelah saya amati, tidak sepenuhnya pelaku itu salah.Justru anak sayalah yang tidak sepenuhnya bersikap benar.

Untuk mengatasi masalah ini, saya menyuruh Evin untuk ‘bangun jiwa dan badan”, antara lain dengan ;

  1. menemukan sisi positif dari dirinya. Ia harus bangga pada dirinya, karena ia ciptaan yang segambar dengan Tuhan. Tak ada yang berhak menyakiti dirinya.
  2. Mengakui bahwa dirinya sebenarnya ingin dekat dengan pelaku, maka banyak perilakunya yang terkesan mengalah dengan semua keinginan pelaku. Awalnya dia tidak mengakuinya, mungkin karena gengsi. Namun akhirnya dia mengaku dan menjadi lega. Saya katakan kepadanya, bahwa jika ia sayang dengan pelaku, maka ia harus membuat pelaku sadar bahwa kekerasan bukanlah cara yang baik. Jadi Evin harus membantu untuk mengubah perliaku dengan bersikap menolak perlakuan kasar.
  3. Bersikap asertif. Jika pelaku melakukan kekerasan, sampaikan dengan asertif (tegas tetapi tidak menyakitkan) bahwa ia tidak terima dengan perlakuan kasar. Sampaikan keberatan itu dengan sikap berhadapan dan menyapa mata pelaku (bukan melotot). Tanyakan kepada pelaku, apa salahnya sehingga pelaku harus bersikap kasar.
  4. Berjalanlah dengan tegak dan tegas, jangan menunduk, karena dia tidak berada di posisi yang salah.
  5. Jika cara itu tidak juga mempan, maka minta tolonglah kepada pihak yang berwewenang, misalnya guru (jika itu anak sekolah) atau polisi. Jangan takut melapor, karena kita benar.

Bulan April seringkali dianggap hari untuk para perempuan. Bulan ini juga, para perempuan diingatkan untuk tidak membiarkan kekerasan dalam bentuk apapun merajalela. Hal ini dikarenakan, tidak hanya pelaku dan korban saja yang terlibat, namun juga anak-anak kita yang melihat. Bagaimanakah nasib generasi penerus kita, jika selalu disuguhi adegan kekerasan? Itu tanggung jawab kita bersama. (xtine)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: