Ayah, Jangan Lukai Hati Anakmu

AYAH,  JANGAN LUKAI HATI ANAKMU

Christine Wibhowo *)

BUKAN IBU

Saya selalu mengamati siapa saja yang datang pada acara-acara parenting (seminar atau ceramah yang berkaitan dengan cara mendidik anak) atau orang yang datang pada acara-acara sekolah. Kebanyakan yang datang selalu kaum ibu. Hal ini dianggap lumrah dan wajar, namun menjadikan saya prihatin. Mengapa?

Jawabannya jelas, yaitu karena tugas mendidik dan membangun karakter anak ada pada ayah, dan bukan pada ibu! Mari kita selidiki kitab 1 Tesalonika 2:7-8. Di sana jelas tertulis tentang peran ayah dan peran ibu. Ya, peran ibu adalah mengasihi, merawat dan mengasuh anak. Atau cobalah Anda kembali menyanyikan lagu Kasih Ibu kepada beta.  Menyanyinya agak keras, dong, agar saya bisa mendengar J.

Ada syair yang sangat menarik, yaitu bahwa kasih ibu itu tak terhingga, hanya memberi  tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia. Apa artinya? Betul, bahwa seorang Ibu adalah seorang yang tanpa pamrih, hanya mengasihi dan mengasihi. Seorang ibu yang penuh kasih, sudah jelas tidak mampu membangun karakter seorang anak. Bukan berarti bahwa dalam membangun karakter tidak perlu dengan kasih. Namun seorang ibu membutuhkan karakter lain, untuk mendidik anak-anaknya. Lalu, siapakah karakter itu? Jawabnya jelas dan pasti, yaitu : AYAH!

IBU dan AYAH

Hampir  semua orang akan mengatakan, bahawa yang paling suka ngomel dan cerewet di rumah adalah ibu. Namun kemarahan dan kecerewetan seorang ibu, tidak berpotensi membuat anak-anak terluka. Mengapa? Karena anak bisa merasakan, bahwa dibalik semua itu, ibu memiliki kasih yang luar biasa.

Anak-anak saya mungkin paling hafal dengan suara saya, karena saya jarang berhenti berbicara di rumah. Adaaaa saja yang membuat saya merasa harus berbicara. Kadang-kadang, saya juga mengancam mereka,” Awas, ya, kalau tidak mau tidur siang,Mama tinggal lho…” Tetapi apa reaksi mereka? Ketiga anak saya akan berunding dan saya mendengar kesimpulannya. “Biarin saja Mama bilang begitu. Kita lihat saja, paling-paling Mama hanya pergi sampai perempatan jalan itu, dan kemudian tidak tega lalu balik lagi ke kita, deh.”

Tetapi  lihat saja, kalau ayahnya yang membuat aturan untuk tidur siang. Hanya dengan mendengar suara pagar dibuka saja, anak-anak saya akan berkata,” Wah, Papa pulang tuh,gawat deh kalau liat kita belum tidur. Ayooo, kita semua tiduuur!”

Apakah Anda juga sering mengalami hal semacam itu? Ya, anak-anak memang lebih mendengar kata-kata ayah daripada kata-kata ibu. Bayangkan, jika kata-kata ayah adalah positif, tentu pengaruhnya besar bagi anak. Lantas, bagaimana jika sikap dan kata-kata ayah adalah negatif? Ya, sudah pasti, hati anak-anak akan terluka.

TUHAN sangat menyadari karisma seorang ayah. Maka dalam kitab Tesalonika disebutkan tiga fungsi utama dari ayah. Jika fungsi ini dijalankan, maka berbahagialah ayah-ayah an anak-anak di dunia ini. Tidak akan ada banyak perilaku yang menyimpang.

PERAN AYAH

Berdasar 2 Tesalonika 11-12, peran ayah memang berbeda dengan peran ibu. Maka tidaklah benar, jika ayah dan ibu saling menggantikan peranan atau bahkan bersikap sok pahalwan, dengan mencoba-coba berperan ganda. Dari Sorga, TUHAN sudah memberikan peran kepada ayah dan ibu yang telah disesuaikan dengan karakter ayah dan ibu.

Tentu Anda masih ingat dengan peran ibu di awal tulisan,bukan? Ibu memiliki peran untuk berperilaku ramah, mengasuh, merawat dan mengasihi anak-anaknya, tanpa harap kembali. Artinya, jika suatu hari saya marah dan mengatakan kepada anak saya,” Kok kamu masih saja memalukan Ibu dengan nilai ulangan yang pas-pasan? Padahal kan sudah diikutkan les ini itu?” Itu berarti saya ibu antagonis, yang member dan harap kembali. Anda sepakat,kan?

Lantas, apa peran Ayah?

1.menasihati anaknya

Hai, Ayah, apakah Anda menyuruh istri  Anda untuk menasihati anak Anda yang sedang salah arah? Itu bukan langkah yang tepat! Karena menasihati adalah tugas seorang ayah. Mungkin dugaan saya adalah telinga dan hati seorang anak telah didisain untuk peka terhadap suara Ayah dibanding suara Ibu. Apa jadinya jika seorang Ayah sibuk berbisnis dan tidak ada waktu untuk menasihati anaknya? Anaknya akan mengalami kekosongan hati dan kelak, ia akan mengalami luka hati. Akibatnya, ia salah dalam bergaul, salah memilih jodoh, dan berperilaku menyimpang.

2. mendisiplin dan menguatkan hati

Seorang Ibu yang penuh dengan belas kasih kepada anak, tidak mungkin bisa mendisiplin anak-anaknya. Ibu banyak tidak teganya. Maka peran ini harus dilakukan oleh ayah. Ketika seorang anak takut menghadapi ujian, dimanakah Anda sebagai seorang ayah? Apakah Anda menguatkan hatinya dengan mengatakan,”Ayo, kamu pasti bisa,Ayah mendukungmu.” Atau jangan-jangan Anda malah absen saat anak-anak sedang membutuhkan dukungan Anda?

Seorang ayah juga harus bisa menjadi contoh tentang kedisplinan dan komitmen. Ayah harus menunjukkan bahwa ia sangat berkomitmen menjaga dan mengasihi keluarganya. Ayah tidak selingkuh dan tekun bekerja demi keluarga. Ayah tidak menyakiti hati Ibu dan anak-anak. Seorang Ayah harus bisa bersikap tegas dalam mengambil keputusan dan bukannya lembek.

Teladan yang diberikan oleh ayah, akan membuat hati anak menjadi kuat, utuh dan tidak bolong. Bagaimana jika Ayah tidak menjalankan perannya? Hati anak akan penuh dengan lubang alias mengalami luka-luka yang sulit disembuhkan dan membuat anak berperilaku yang menunjukkan lukanya. Benci, sikap permusuhan, balas dendam dan hidup dalam lembah kekelaman.

AYAH DAN BUKAN IBU

Penelitian  membuktikan bahwa  banyaknya gangguan perilaku dan gangguan psikologis, dialami oleh orang-orang yang terluka hatinya. Ketika diwawancara secara mendalam, hampir semua kaum homoseksual/lesbian,pecandu narkoba dan perbuatan kriminal yang lain, semuanya menjawab bahwa mereka sangat membenci ayahnya. Dengan kata lain, ayahnya tidak berfungsi, maka anak-anak menjadi tawar dan luka hatinya.

Anda tentu masih ingat cerita anak-anak Imam Eli, yang berperilaku sangat kurang ajar. Hal ini terjadi, karena Imam Eli tidak tegas dalam member I disiplin. Atau kisah tentang Adonia , anak Daud yang rusak perilakunya, karena tertulis bahwa Daud tidak pernah menegurnya (1 Raja-Raja 1:1-6).

JANGAN LUKAI HATI ANAKMU

Tidak ada dalam Alkitab perintah kepada Ibu, kakek, nenek atau paman-bibi untuk tidak menyakiti hati anak. Namun perintah itu diberikan untuk ayah. Kita bisa bayangkan betapa hancur dunia ini, jika generasi penerus berperilaku tidak baik, karena luka hati yang disebabkan oleh ayah.

Pada intinya, Ayah yang tidak berfungsi, menyebabkan generasi berikutnya mengalami luka-luka hati. Cara menyembuhkan hati yang terluka, sangatlah sulit. Maka yang lebih baik adalah mencegahnya, dengan memaksimalkan peran ayah. Lalu bagaimana jika Ayah absen (karena meninggal dunia, bekerja di luar kota/negri)? Nampaknya perlu satu sesi seminar untuk membahas masalah ini J. Karena, seorang ibu tidak bisa berperan ganda seorang diri.

Ada kisah nyata dari seorang gadis berusia 19 tahun, sebut saja ia Bunga. Ia mengatakan, awalnya ia membenci  ibunya.Dia tahu, ibunya salah karena kata-katanya kasar, maka ia tidak ingin meniru. Tetapi pada kenyataannya, justru tanpa ia sadari, ia juga sering berkata kasar kepada siapapun . Ia kemudian merenung, dan menyimpulkan bahwa ia dan ibunya sebenarnya sedang mengalami hati yang luka. Mengapa? Karena ayahnya adalah seorang yang tidak bertanggung jawab, suka mabuk dan main judi. Setiap bertemu dengan ibunya, sang Ayah selalu memaki dengan kata-kata yang tidak pantas diucapkan seorang lelaki kepada keluarganya.

Bunga dan ibunya, tidak berani melawan sang ayah. Mereka hanya bisa memendamnya dalam hati. Tidak perlu waktu lama, hati yang penuh dendam ini akan berlubang dan menimbulkan luka. Jika hati sudah luka, ia akan menularkannya kepada siapa saja yang ia ajak berinteraksi.  Mengerikan,bukan?

Saat ini, Bunga sedang mengikuti terapi ‘trauma healing” atau terapi memaafkan, agar hatinya pulih. Terapi ini berlangsung lama dan tidak mudah. Ia sudah terlanjur menjadi lesbian, karena sangat membenci ayahnya.

Pengobatan memang lebih sulit daripada mencegahnya. Maka, Hai Para Ayah, jangan pernah lukai hati anak-anakmu. Andalah oknum yang sangat berpotensi menyakiti hati anak Anda.Tidak ada orang di muka bumi ini, yang bisa menyakiti hati anak, setajam Anda.

Tetapi itu juga berarti, anak-anak yang sehat secara psikis, jasmani dan rohani, pasti memiliki seorang Ayah yang takut pada Tuhan sehingga melakukan perannya dengan maksimal.

Oya,apakah Anda ingat, mengapa Bangsa Israel harus diputar-putar oleh Tuhan selama 40 tahun sebelum diijinkan masuk ke dalam tanah perjanjian? Ya, karena bangsa Israel seringkali gagal meyakini kekuasaan dan kasih TUHAn yang sebenarnya selalu menyertai mereka. Pertanyaan selanjutnya adalah, menagapa mereka gagal mengenal kasih TUHAN, selalu penuh kritik dan bersungut-sungut? Jawabnya adalah karena selama bertahun-tahun mereka mendapat perlakuan buruk dari Bangsa Mesir, sehingga hatinya terluka. Hati yang terluka, akan sulit mengenal kasih.HIdupnya getir, penuh curiga, pahit dan perilakunya tidak berada di jalan TUHAN.Nah, Ayah, Anda tidak ingin anak-anak tidak mempunyai kasih,bukan? Kuncinya satu, jangan sakiti hati mereka!

A

I LOVE YOU, DADDY

Sejak hari ini, saya ingin melihat  banyak para ayah yang hadir di seminar parenting, yang membeli buku tentang parenting, yang selalu punya waktu untuk mendidik anak, di kala sedang tidur, duduk dan berjalan!

Biarlah anak-anak kita dengan bangga menyanyi lagu I LOVE YOU DADDY….
Saya cuplikan beberapa syairnya, untuk Para Ayah :
You understand me….
You teach me how to pray..
And you play the game I love to play
I have no fear here when you are near
You guide me through the dark is night

I love you Daddy…
You are my hero (and you always in my dream)
I love you daddy oh daddy
You are my superstar

I wanna show you
I’ll be as strong as you
When I grow up I still look up to you
So have no fear here I believe here

(sumber tulisan: Ev. Daniel Alexander)

*)staf Pengajar Fakultas Psikologi, pembicara seminar dan penulis buku parenting

(dimuat di BGKMI, Maret 2011)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: