SETIA TAPI TIDAK BUTA (dimuat di majalah BGKMI, Februari 2011)

SETIA TAPI TIDAK BUTA

Di ruang konseling psikologi,saya sering menjumpai sepasang kekasih yang berusaha setia, walau sudah tidak ada kecocokan lagi. Istilah mereka adalah “sudah tidak jatuh cinta lagi”.

Mereka bilang,”Malu kalau kami harus batal menikah,karena semua orang sudah tahu kalau kami sepasang kekasih. Biarlah walau di hati kami sudah tidak ada cinta, tapi paling tidak dari luar, orang akan melihat bahwa kami adalah pasangan yang setia.”

Bagaimana komen Anda? Kalau menurut saya sih itu setia konyol.

Dengan kata lain, setia buta!

Dalam berpacaran dan menjalin hubungan,kesetiaan memang perlu, tapi bukan setia model demikian.

Ada juga kisah tentang seekor anjing di Jepang yang terkenal karena kesetiaannya. Redaksi majalah BGKMI juga sangat terkesan dengan kesetiaan anjing ini. Saking setianya anjing ini, sampai-sampai ada legenda mengenai seekor anjing di Jepang yang bernama Hachiko, yang rela menunggu tuannya yang telah tiada selama sepuluh tahun di stasiun Shibuya, jepang. Untuk mempertingatinya, dibuatlah patung Hachiko.

SETIA DALAM HAL APA?

Lalu, bagaimana sih setia yang benar?

Setia adalah dapat dipercaya dan tidak mudah bosan dengan rutinitas. Saya setuju kalau Hachiko disebut anjing yang setia, namun kesetiaan yang kita perlihatakan tentu lebih dari setia yang hanya kebiasaan, tapi justru kesetiaan karena kerelaan dan kesabaran.

Seorang ibu yang baru saja melahirkan bayi, tentu gembira tiada tara. Namun jika bayinya rewel di tengah malam dan meminta ASI, apakah Ibu tetap bisa bersukacita dan tidak lelah? Kalau boleh jujur, pasti dia akan menjawab, dia tidak suka keadaan ini. Tapi dia rela melakukan semua yang tidak ia sukai itu. Karena apa? Jawabnya jelas, karena ia cinta dan setia pada tugasnya. Ini beda lho, dengan setia buta, karena Ibu memiliki cinta, dan bukan paksaan.

Lalu dalam hal apa saja kita harus setia?

1. SetIa terhadap tugas

Orang yang percaya kepada TUHAN, pasti percaya bahwa tugas dan pekerjaannya adalah anugerah TUHAN. Maka ia akan melaksanakan tugas itu dengan sungguh-sungguh dan disiplin.

Saya punya teman dosen, sebut saja bapak Y, yang juga memiliki banyak proyek di luar pekerjaan utamanya, yaitu member i kuliah. Jika banyak orang kemudian lebih memilih proyeknya yang jelas-jelas lebih memberikan penghasilan yang menarik, maka Bapak Y tetap setia member kuliah walau jadualnya sangat tidak mengenakkan, yaitu hari Senin, jam 07.00.Mahasiswanya mengenal beliau sebagai dosen yang disiplin, tidak pernah kosong kuliahnya dan cermat dalam mengoreksi tugas-tugas mahasiswa.

Saya salut pada beliau, di tengah kesibukannya yang segunung, ia tetap setia dengan tugasnya sebagai pendidik. Orang yang setia dengan tugas, akan benar-benar bertanggung jawab atas semua yang ia lakukan , termasuk tidak korupsi waktu dan uang. Dengan begitu pekerjaan akan benar-benar menjadi berkat bagi orang lain.

Ibu rumah tanggapun memiliki tugas yang membutuhkan sikap setia.Ibu yang setia adalah ibu yang dengan senang hati memberikan ASI eksklusif pada bayinya, di tengah maraknya susu formula. Ia akan mengatur kehidupan rumah tangga dengan penuh dedikasi. Ia tidak perlu pintar memasak, tetapi ia bisa mengatur agar suami dan anak-anaknya bisa makan teratur. Ia tidak harus melakukan sendiri pekerjaan beres-beres rumah, namun ia bisa menemukan cara agar rumahnya selalu rapi dan menyenangkan.Itulah setia.

2. Setia Terhadap Tiap Hubungan

Kita akan dapat dikatakan setia jika kita telaten menjaga hubungan dengan orang lain, termasuk dengan pasangan kita. Banyak yang mengatakan bahwa media internet sering membuat pernikahan goncang karena pasangan lebih suka chatting (ngobro) dengan teman di dunia maya. Namun di sisi lain, jika kita bisa menggunakan dengan bijak, media internet bisa mendekatkan yang jauh. Tetapimenjalin kontak dengan teman-teman lama dan baru itu adalah salah satu cara kita untuk menunjukkan kesetiaan kita kepada teman-teman.

Menjaga rahasia teman dan pasangan kita, kita juga dapat dikatakan bahwa kita adalah setia/loyal. Banyak hubungan yang hancur, karena salah satu pihak atau kedua belah pihak tidak bisa menjaga rahasia.

Jangan lupa, setia kepada TUHAN juga dapat dilihat dari cara kita menjaga hubungan manis dengan TUHAN. Jika kita setia pasti kita tidak ingin melukai hati TUHAN dengan cara apapun. Apalagi kita tahu TUHAN kita sangatlah pencemburu, maka orang yang setia adalah orang bisa menomorsatukan perasaan TUHAN.

Bagaimana dengan perkawainan? Tentu saja, kesetiaan adalah wajib hukumnya. Setia dalam pikiran, perkataan dan perilaku. Ngomong-ngomong, mungkin perilaku Anda tidak selingkuh, tetapi apakah Anda merasa risih jika seandainya pasangan Anda membaca/mendengar obrolan Anda dengan teman Anda? Jika jawabnya adalah “ya’, mungkin Anda perlu tunduk kepala untuk instrospeksi. Jangan-jangan Anda mulai tidak setia.

BAGAIMANA SETIA ITU?

Telah saya singgung sebelumnya bahwa kesetiaan kita tentu berbeda dengan kesetiaan anjing yang tidak memiliki akal budi. Maka semua yang kita lakukan harus dengan akal sehat, termasuk saat setia.

Apa maksudnya?

a. Bukan karena terpaksa

Seorang suami pernah berkata bahwa sebenarnya ia telah bosan dengan istrinya dan ia lebih suka curhat dengan teman-temannya. Namun jika sampai saat ini mereka tidak bercerai, semata-mata karena agamanya melarang perceraian. Jadi, suasana rumah seakan-akan panas tiap hari,karena semua hal bisa memicu pertengkaran. Rasa terpaksa semacam ini, tidak dapat menghasilkan rasa setia yang optimal.

Demikian juga dengan pelayanan TUHAN tidak ingin kita melayani karena terpaksa. Terpaksa menjadi majelis gereja, pengurus komisi, atau song leader, adalah pelayanan yang sia-sia di mata TUHAN.

Anda ingat bukan,dengan cerita saya tentang ibu yang terbangun dari tidurnya karena bayinya rewel? Nah, pelayanan juga seharusnya seperti itu. Mungkin akan ada banyak situasi yang tidak menyenangkan dan awalnya kita juga sakit hati, namun kita RELA melakukannya tanpa terpaksa. Itulah setia pada YESUS.

Saat kita dipilih menjadi pengurus, tentu ada rasa enggan, namun jika kita rela melaksankannya, itulah setia.

b. Bukan Karena Takut Dihukum.

Saya pernah mendengar cerita tentang seorang pemuda yang selalu rutin membaca Renungan Harian setiap pagi. Suatu saat ia bekerja di ibu kota dan kemudian menikah. Pekerjaan dan macetnya jalan, mengharuskan ia harus berangkat pagi-pagi benar dan pulang setelah pukul 19.00. Sampai di rumah, ia harus meluangkan waktu untuk anaknya.

Ia sangat letih dengan keadaan ini. Maka ia seringkali tidak lagi sempat membaca Renungan Harian di pagi hari. Ia kemudian merasa sangat berdosa dan putus asa.Ia takut kena hukuman dari TUHAN. Ia minta ampun tiada henti. Itulah yang saya sebut sebagai setia karena takut dihukum. TUHAN tentu ingin kita melayani, berdoa dan membaca firmanNya, namun bukan dengan dilandasi ketakutan semcam itu. Tentu saja, situasi saat kita lajang akan berubah dengan situasi kita saat sudah menikah. Ini akan membuat ritme pelayanan dan ritual kita juga akan berubah. Namun kesetiaan bukan dilihat dari perubahan ritme, namun dilihat dari motivasi kita dalam melayani. Bukan karena takut hukuman, namun semua kita lakukan karena menyadari dengan sangat anugerah TUHAN.

Demikian pula perubahan komunikasi antar suami dan istri. Mungkin dengan berjalannya waktu, akan ada perubahan di sana dan di sini. Dulu sangat romantis, sekarang hanya agak romantis. Dulu hanya berdua, sekarang selalu bersama anak. Memang banyak perubahan, namun kesetiaan bukan berarti tidak ada perubahan. Kesetiaan membuat kita terus berkomitmen, bukan takut dihukum. Kita tidak bertindak kriminal bukan hanya karena takut dihukum, bukan? Tetapi jelas karena komitmen kita. Itulah setia!

c. Karena Pilihan

Jelas sudah, kita setia bukan karena takut hukuman dan bukan karena terpaksa. Setia bukan karena keadaannya selalu sama atau karena kita gembira, namun karena kita MEMILIH untuk setia.

Suami dan istri tidak bisa menyalahkan begitu saja adanya godaan dari luar yang membuat mereka selingkuh.Toh mereka adalah manusia yang diberi kebebasan memilih, yaitu untuk setia atau selingkuh. Kalau yang kita lakukan adalah pilihan kita, maka apapun keadaan dunia, kita bisa berkata bahwa the show must go on.

Kita juga akan sabar dalam penderitaan. Jika doa kita belum dijawab TUHAN atau jawabanNya tidak sesuai dengan harapan kita, kita tetap bisa setia dan tidak menyalahkan TUHAN, karena kita sendiri yang memilih untuk setia.

Saya selalu menganjurkan kepada orangtua agar menciptakan kondisi sedemikian rupa, sehingga kegiatan belajar seolah-olah adalah pilihan anak sendiri sendiri. Lihat saja, anak Anda. Disuruh apapun, jika itu bukan kemauannya, pasti akan sulit sekali membuatnya mau mengerjakan tugas yang kita berikan kepadanya. Tapi kalau ia mengerjakan tugas yang ia pilih sendiri, pasti tugas itu akan dikerjakan hingga tuntas, tanpa rasa bosan. Maka daripada kita mengatakan,”Ayo, cepat belajar.kalau tidak mau, Papa pukul lho!” Akan lebih baik jika mengatakan,”Ayo, silakan pilih. Membersihkan seisi rumah ini dan harus selesai dalam waktu 15v menit atau belajar?’ Sudah hampir dapat dipastikan, anak akan memilih belajar. Karena itu pilihannya sendiri, anak akan melakukan dengan tekun, tanpa rasa bosan, dan kuat menghadapi godaan.

Demikian juga melayani TUHAN, mungkin bukan suatu yang menyenangkan selamanya. Namun jika itu pilihan kita, maka apapun konsekuensinya, kita rela melakukannya dengan setia. Ayub adalahs eorang tokoh yang sering dijadikan contoh sebagai orang yang setia.

BUKAN BUTA DAN ASAL IKUT-IKUTAN

Setia akan bertahan lama jika bersumber dari hati, dan bukan sekedar ikut-ikutan. Mungkin ada sebagian orang yang selalu mengikuti arus demi rasa aman. Kalau sekarang musimnya banyak yang setia pada Pemimpin A, maka banyak orang yang ikut-ikutan menyukai dan setia pada A. Jika besok ada yang mencaci maki A, maka orang segera ikutan mencaci A, tanpa menelaah lebih dahulu sumber masalahnya.

Ada banyak orang yang hanya karena demi mengejar kenikmatan dunia, tidak lagi setia pada TUHAN. Mengapa? Karena rasa setianya hanya sekedar ikut-ikutan dan membabi buta, sehingga saat ada angin sedikit saja, ia telah oleng. Ia tidak kuat menahan ujian dan tidak tekun saat menghadapi kesulitan.

Marilah kita periksa diri kita. Pernahkan kita merasa bosan melayani dan bosan dengan kehidupan pernikahan kita? Seseorang pernah mengatakan kepada saya,”Aduuuh, lama amat ya, menunggu ‘sampai maut memisahkan kita’ ? Rasanya saya sudah tidak tahan nih, dengan kelakuakn istri saya. Jika itu juga terjadi pada Anda, mungkin Anda perlu membaca ulang tulisan saya ini dan segera menjawab pertanyaan,”Apakah Anda setia?” Salam Setia!

(beberapa poin, disarikan dari khotbah Pdt. Juswantori Ichwan)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: