CINTA INI MENGHIDUPKANKU -dimuat di majalah BGKIM edisi Desember 2010

CINTA INI MENGHIDUPKANKU

Cinta ini membunuhku?

Pasti akhir-akhir ini Anda sering mendengar kabar, tentang banyaknya peristiwa tragedi yang mengatasnamakan cinta. Ada seorang ibu yang membunuh anak-anaknya sebelum dia sendiri bunuh diri. Dari surat yang ditemukan di dekatnya, dapat diketahui bahwa ia melakukan perbuatan itu demi cinta! Katanya, daripada ia melihat anak-anaknya hidup menderita karena miskin, mendingan ia membunuhnya. Banyak kasus lain yang serupa. Seorang istri yang berwajah melankolis, menjadi gelap mata saat mendengar kabar suaminya berselingkuh. Daripada melihat suaminya hidup dengan orang lain, lebih baik ia  kehilangan suaminya selamanya. Maka kemudian ia memutilasi suaminya. Saat diwawancara oleh media, ia mengatakan bahwa ia sangat mencintai suaminya. Justru karena itu, ia tidak rela suaminya hidup berpaling darinya.

Saya jadi ingat dengan kata-kata yang sering didengungkan oleh masyarakat, yaitu : ’cinta ini membunuhku’. Benarkah begitu? Dari banyak buku yang saya baca, dikatakan bahwa cinta adalah emosi yang positif. Apa artinya? Cinta sejati tentu menghidupkan dan bukan membunuh! Cinta memunculkan adanya harapan, dan bukan ke-putus asa-an.

Harapan

Joice McFadden mengatakan, ada 2 hal yang mempengaruhi kita, yaitu  harapan dan ketakutan. Ketakutan membatasi kita untuk berperilaku tertentu, sedangkan harapan menciptakan ruang dalam pikiran dan hati kita.

Misalnya saja, saat kita tiba-tiba bertemu dengan binatang buas dan mematikan. Kita akan takut, bukan? Pada saat begitu, tubuh dan perasaan kita pasti dalam kodisi siaga dan waspada. Hanya ada dua pilihan, yaitu menantangnya atau melarikan diri. Begitu juga dengan kita, jika meghadapi peristiwa dengan takut. Jika kita menantangnya, maka kemarahan ada di wajah kita. Kalau kemudian kita memilih melarikan diri dari persoalan yang ada, itu berarti ketakutan yang menyelimuti kita, bukan harapan apalagi cinta!

Ketakutan yang berlebihan menyebabka seseorang menjadi tidak sehat secara psikis. Ia akan banyak curiga dengan orang lain, tidak percaya diri, sering memiliki dugaan yang salah dan berperilaku kasar. Ngomong-ngomong, apakah Anda kenal dengan orang yang memiliki sikap seperti itu? Jangan-jangan itu karena ia mengalami ketakutan.

Lantas, apa bedanya dengan harapan? Pada peristiwa yang sama, seseorang yang memiliki harapan akan lebih bersahabat dengan dirinya sendiri dan dunia di sekitarnya. Sehingga ia bisa berpikir jernih dalam mengatasi masalah dan punya keiginan untuk maju. Harapan membuat orang yakin, bahwa ada pelangi sehabis hujan. Ada titik terang di ujung lorong.

Memang, ketakutan itu datang dengan tepat waktu. Setiap ada masalah, maka rasa takut segera menghampiri kita. Namun, harapan sering datang terlambat. Ia perlu dipupuk sejak anak masih kecil. Harapan akan ada, jika kita mau menerima dukungan dari orang lain, dan aktif mencari jalan keluar. Tidak ada harapan yang bisa muncul dengan satu kali “klik”.

Memupuk Harapan

Sejak kecil, orangtua hendaknya memberikan lingkungan yang aman bagi anak-anaknya. Sehingga anak-anak tidak mengalami ketakutan yang tidak perlu. Biarkan anak merasa aman jika bersama orangtua. Biarkan anak berani mengungkapkan kegagalan dan kesalahannya pada orangtua. Tentu saja, salah adalah salah. Kalau ia tidak belajar, sudah sepantasnya orangtua marah. Namun orangtua tetap memberi “ruang untuk salah” pada anak-anak, sehingga anak tidak selalu hidup dalam rasa takut. Justru dari kesalahannya,ia dibantu untuk menjadi lebih baik.

Anda,suka menabung uang? Itu sikap yang baik. Tapi, pernahkah Anda menabungkan keberhasilan untuk anak-anak Anda? Bagaimana caranya? Anda harus sering menjuluki anak Anda sebagai seorang juara, pemenang dan selalu berhasil. Tentu saja anak kita tidak selalu juara matematika dan berhasil di sekolahnya. Tetapi, jika ia tidak mencontek saat ulangan, Anda harus menepuk bahunya dan mengatakan,”Kamu hebat, karena selalu jujur! Kamu juara kejujuran!”  Saat ia mendapat nilai 100 untuk ulangannya, walau harus ia tempuh beberapa kali remidi, Anda serukan untuknya,”Kamu pemenang!”

Dengan adanya tabungan keberhasilan, kelak saat ia dewasa dan menemui persoalan, ia pun akan selalu punya harapan bisa mengatasinya. Ia akan mengingat, toh dulu ia juga selalu berhasil,bukan? Jadi, kali ini pun, ia pasti bisa berhasil!

Pecah tujuan yang besar menjadi tujuan yang kecil. Ini adalah cara berikutnya, agar kita memiliki harapan. Misalnya saja, saya bercita-cita menjadi penulis hebat. Saya akan kehilangan harapan jika hanya melihat cita-cita saya yang tinggi itu. Akan tetapi jika saya memecahnya mejadi tujuan yang mudah dilakukan, saya akan punya harapan. Cita-cita  itu misalnya saya pecah menjadi latihan menulis di buku harian, kemudian menulis untuk majalah dinding sekolah, menulis di facebook, dan….menulis di BGKMI! Karena tujuannya kecil-kecil dan sangat praktis,maka saya memiliki semangat meraihnya,  saya merasa bisa. Itulah harapan!

Agar harapan selalu menyala, maka kita jangan terpaku pada satu tujuan.Ciptakan banyak alternatif tujuan dan alternatif cara mencapainya. Misalnya saja, kalau tidak berhasil juga untuk jadi penulis, saya punya cita-cita “cadangan” ,yaitu ingin bekerja di bidang marketing atau menjadi guru atau menjadi ibu rumah tangga yang telaten mengasuh anak-anak. Nah, dengan banyaknya alternatif, kita tidak akan kehilangan akal alias tetap memiliki asa/harapan!

Bagaimana jika tetap gagal? Maka carilah penyebab kegagalan yang dapat kita atasi dan bukan fokus pada penyebab yang di luar kontrol kita. Saya gagal menjadi penulis, karena ada dua alasan utama, yaitu tulisan saya tidak bagus dan penerbit tidak suka dengan saya (misalnya). Maka daripada saya menangisi nasib saya yang tidak disukai penerbit, mendingan saya fokus untuk berlatih, agar tulisan saya semakin bagus.

Carilah dukungan dari orang lain, agar kita makin optimis. Bisa saja dengan cara, saya meminta saran dari para penulis yang sudah berhasil. Saya meminta dukungan dari mereka agar saya tetap optimis. Mendengar masukan-masukan dan pengalaman jatuh bangunnya mereka, pasti akan membuat saya semakin memiliki harapan,bahwa saya pun bisa!

Cinta Tuhan Penuh Harapan

Tentu Anda paham, sebagai pengikut Tuhan Yesus, kepada siapakah kita bisa meminta dukungan yang penuh? Ya, tentu saja kepada sumber cinta dan sumber harapan, yaitu kepada Tuhan Yesus sendiri.Kita akan kecewa jika selalu bergantung pada orang lain. Mereka pun bisa saja kehabisan harapan. Jadi daripada repot, kita minta saja langsung dari empunya harapan, yaitu Tuhan Yesus. Toh kita punya saluran khusus untuk menghubungiNya,bukan?

Cinta Tuhan berbeda dengan cinta dunia yang membunuh. CintaNya justru menghidupkan. Orang yang sudah mati saja, dengan kasihNya ia jadikan hidup kembali.  Masa’ kita yang sudah hidup, ingin mati?

Saya ingat betul salah satu lagu Sekolah Minggu favorit saya, yaitu “Sbab Dia Hidup.”  Mari,Pembaca, kita nyanyikan bagian reff-nya :

“S’bab DIA hidup, ada hari esok

S’Bab DIA hidup, ku tak gentar

Kar’na ku tahu, DIA pegang hari esok

Hidup jadi berarti, s’bab DIA hidup!”

Bulan ini, kita merayakan Natal. Tentu kita tidak perlu berdebat, tanggal berapa tepatnya Natal itu. Justru yang perlu dijawab adalah, apakah kita menyambut tawaranNya untuk hidup dengan penuh harapan? Bayi mungil yang dulu lahir di kandang itu, sekarang menjadi Raja segala raja. Ia sumber harapan. Mintalah, maka kita pasti diberi harapan itu.

Oya, Anda pasti sering membaca tentang makna huruf “O” ,bukan? Huruf O berarti Opportunity (=kesempatan).

Pada kata YESTERDAY tidak ada huruf “O” berarti KEMARIN sudah tidak ada kesempatan lagi

Pada kata TODAY ada 1 huruf “O” berarti HARI INI masih ada 1 kesempatan lagi.

Pada kata TOMORROW ada 3 huruf “O” berarti BESOK masih ada banyak ckesempatan Ada banyak harapan! TUHAN telah menawarkan CintaNya yang menghidupkan kita dnegan harapan. Anda mau menerimanya? Selamat Natal, selamat berpengharapan!

Bacaan

Seligman, E.P. & Jane Gillham. (2000). The Science of Optimism and Hope: Research Essays in Honor of Martin E.P. Seligman. Philadelphia: Templeton Foundation Press.

cinta ini menghidupkanku

Cinta ini Menghidupkanku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: