GUILTY FEELING

GUILTY FEELING

xtine wibhowo

KEMARIN…

Putri saya yang bungsu, seperti kakak-kakaknya–mungkin sudah keturunan

ibunya (hehehe)–, sangat sedih saat memasuki kelas Play Group.Tapi saya

mencoba menguatkan hati dan tegas padanya. Pernah juga suatu hari saya sedikit mengancamnya.

Hingga suatu malam menjelang tidur, ia menatap mata saya dalam-dalam  dan berkata,” Besok tidak mau sekolah ya,Ma…. Sese pengen duduk di sebelah Mama aja….” Ia mengatakannya tidak dengan berteriak. Tidak juga dengan tangis yang meledak. Cukup dengan satu aliran air mata di pipinya.

Hati saya langsung meleleh, hancur jadi debu. Beberapa hari setelahnya, saya tidak pernah bisa menghilangkan bayangan wajah anak saya dan air matanya. Saya merasa sangat menyesal telah menyakiti anak saya. Saya mengalami guilty feeling (GF).

APA ITU GUILTY FEELING(GF)?

               Beberapa tokoh sependapat bahwa konsep guilty feeling (GF) inilah yang paling sering dibicarakan oleh para psikolog dan theolog. Sehingga GF ini dapat dikatakan sebagai benang merah antara psikologi dan teologi.
               Seorang psikolog bernama Tomkins menyebutkan bahwa ada perasaan dasar yang dimiliki manusia, yaitu perasaan positif (bahagia , gembira) dan perasaan negatif (marah, malu dan perasaan bersalah/guilty feeling). Memang di sini dikatakan bahwa jika perasaan bersalah saja, memang merupakan emosi negatif. Namun jika emosi negatif ini diikuti dengan penyesalan dan perilaku yang semakin baik, maka inipun dapat dikatakan sebagai anugerah TUHAN. Lalu pertanyaannya, apakah ada GF yang bukan anugerah TUHAN?

JENIS GUILTY

Ada banyak jenis GF. Ada orang merasa bersalah karena telah melanggar hukum, melanggar norma sosial, berperilaku tidak sesuai dengan hati (seperti contoh cerita di atas, tentang perasaan bersalah orangtua kepada anak), dan GF karena melanggar hukum TUHAN.

Narramore kembali mengatakan bahwa setelah mengalami GF, seseorang bisa saja mengalami penyesalan  positif dan negatif. Contohnya pada cerita saya di awal tulisan ini, saya jelas mengalami GF. Saya dapat dikatakan :

  1. menyesal negatif, jika kemudian saya mengutuki diri sendiri karena telah mengancam anak dan kemudian mengajak anak untuk bersenang-senang dan cuti sekolah sehingga anak tetap trauma dengan sekolah.
  2. menyesal positif, jika saya kemudian introspeksi dan mencari jalan keluar untuk membujuk anak saya untuk bersekolah dengan gembira.

Seringkali dunia senang jika ada orang yang menyesal secara negatif sehingga orang yang menyesal itu benar-benar trauma, ‘babak belur’ hingga tak kuat melanjutkan hidup lagi karena penyesalannya ini.

Setiap orang yang mengalami masalah hidup, misalnya pusing kepala terus menerus, suka mengkritik ornag lain dengan tajam, depresi, homoseks dan pernikahan yang tidak harmonis, bisa dipastikan bahwa dalam dirinya ada GF yang diikuti dengan penyesalan negatif. (Narramore,Bruce ; 1974).

Sedangkan TUHAN tidak pernah menginginkan kita menyesal negatif. Tuhan memberi kita penyesalan positif, yang  selalu membawa kita ke langkah berikutnya, yaitu melakukan yang terbaik. Maka bisa dikatakan bahwa penyesalan positif memang benar-benar karunia TUHAN.

Mungkin kemudian muncul pertanyaan, jika merupakan karunia, bukankah penyesalan merupakan pemberian dan kita tak bisa mengusahakannya? Tentu saja, untuk mendapatkan penyesalan, kita tidak bisa berdiam diri saja, tetapi kita harus aktif dengan setia mengasah hati  dengan Firman TUHAN. Maka penyesalan positif akan kita miliki.

PENGAKUAN

Penyesalan positif  akan diikuti dengan pengakuan. Pengakuan yang paling utama adalah pengakuan di depan TUHAN dan kepada orang yang telah kita lukai. Sehingga dalam tradisi Protestan, dirasa tidak perlu adanya pihak ketiga dalam pengakuan ini.

Namun memang ada beberapa orang yang menyesalnya sangat mendalam, sehingga ia merasa akan lebih ’plong’ jika ia juga mengakui kesalahannya pada pihak ketiga juga. Kemungkinan hal inilah yang mendasari tradisi katholik tentang adanya pengakuan dosa di depan pastor.

MEMAAFKAN
Proses berikutnya setelah pengakuan, adalah proses yang sangat penting yaitu memaafkan orang lain 
atau diri sendiri. Memaafkan tidak sama dengan melupakan.
Dalam memaafkan harus ada GF, pengakuan, keinginan untuk memperbaiki dan melanjutkan hidup 
dengan lebih baik lagi. 
Jika ada salah satu unsur yang tidak terpenuhi, maka itu bukan memaafkan. 
Seorang anak yang mainannya dihilangkan temannya, lalu berkata,
”Hari ini aku maafkan kamu, tapi mulai hari ini aku tidak mau meminjamkan mainan lagi,” 
dapat dikatakan belum memaafkan.
Ia dikatakan bisa memaafkan jika ada keinginan dari dua belah pihak untuk 
memperbaiki perilakunya dan selanjutnya tetap bersahabat.
 Memaafkan diri sendiri, ternyata seringkali tidak semudah yang dibayangkan. 
Kadangkala kita hanya berhenti di tahap GF sambil berseru-seru kepada TUHAN untuk minta ampun. 
Bukankan sudah cukup TUHAN disalibkan sekali saja, untuk mengampuni kita?  
Apakah kita lebih suci dari TUHAN, sehingga tidak bisa memaafkan diri sendiri? 
Will we crucified JESUS twice??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: