MASA TUA GEMILANG-seminar Wulan GKI Beringin, 8-10-10
MASA TUA GEMILANG
Adakah jurang generasi?
Jurang : adakah ?
Sebenarnya tidak ada yang disebut dengan jurang generasi. Istilah ’jurang’ seolah membenarkan bahwa pasti akan ada kesenjangan antara generasi tua dan generasi muda. Padahal sebenarnya, orang lanjut usia telah mengalami masa muda,sehingga mustinya bisa memahami generasi yang lebih muda. Sedangkan orang muda, dengan daya fisik dan daya pikir yang masih prima, akan dapat memahami kebutuhan generasi yang lebih tua.
Jika sekarang ada gap antara generasi muda dan tua, bukan karena terjadi secara otomatis, namun sebenarnya karena perilaku masing-masing pribadi, sehingga muncul anggapan yang keliru, seperti joke berikut.
Guyonan Orang Muda
Suatu hari Raja Salomo kedatangan 2 Ibu Mertua dan satu menantu. Dua Ibu mertua ini saling berebut menantu. Maka Salomo segera memerintahkan algojonya untuk membelah si menantu. Ibu A, melarang Salomo membelah menantunya. ”Aku rela dia tidak tinggal bersama aku, asal dia bahagia dan tidak mati.”
Akan tetapi Ibu B, mempersilakan Salomo untuk membelah menantunya. Maka dengan mantap Salomo mengatakan, bahwa Ibu B-lah mertua yang asli.
Tentu saja itu hanya guyon, tetapi mengandung makna bahwa sedemikian buruknya mertua dipandangan orang muda.
Bahkan ada yang berkelakar, bahwa Petrus menyangkali Yesus, karena Yesus menyembuhkan ibu mertuanya………(hahahahaaa)
Jaminan Tuhan
Jika dunia sering menganggap remeh keberadaan orang tua, bagaimana dengan Tuhan? Tentu saja Tuhan tetap menyayangi orang tua. Bahkan dia memberi jaminan kepada orang tua, berupa rambut putih sebagai mahkota (orang muda yang tidak menghormati orang yang telah memiliki mahkota ini, akan hidup dalam penderitaan) dan Ia pun berjanji akan menggendong orang tua.
Namun demikian, jaminan itu akan semakin nyata, jika orang tua juga berusaha memiliki karakter yang baik. Banyak orang tua yang dipakai Tuhan, justru di saat usianya senja (misalnya Abraham dan Musa), tetapi ada pula yang jatuh di usia tuanya (misalnya Salomo).
Pohon Aras dan Pohon Kurma
Agar karakter orang tua menjadi baik, maka hendaknya dapat meniru dari pohon aras. Pohon ini tahan untuk tidak lapuk. Makin tua makin menjadi. Ia bisa menjadi penyangga bagi sesama. Istana Salomo yang megah itu pun, di bangun dari pohon aras.
Sedangkan pohon kurma mendatangkan sukacita. Saat biji kurma ditanam, akarnya akan masuk terus ke dalam tanah,mencari sumber air. Setelah menemukan air, barulah ia tumbuh. Maka orang akan suka cita saat mendapatkan pohon kurma, karena yakin bahwa di dalamnya terkandung air kehidupan dan kehidupan.
Jadilah teladan
Untuk menjadi teladan, orang lanjut usia perlu memahami hal-hal berikut :
- Bahwa setelah menikah, anak akan ’meninggalkan’ orang tua dan bersatu daging dengan pasangannya. Ini berarti, loyalitas, prioritas dan komitmen anak tidak lagi kepada orang tua. Dengan memahami hal ini, maka orang lanjut usia tidak akan menuntut perhatian terlalu banyak kepada anak-menantu.
- Cucu bukanlah milik nenek/kakek, bahkan juga bukan milik sepenuhnya dari orangtuanya.
- Nikmati humor, usahakan wajah selalu ceria sehingga anak-cucu tidak takut
- Back to nature (jalan kaki, mencuci, menyapu dan olah raga ringan) agar tubuh menjadi sehat. Di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat.
- Bina hubungan baik dengan orang lain, sehingga akan mengalirkan energi yang positif
Tips Mertua dari Yitro
Musa sebagai menantu sangat respek terhadap mertuanya, karena Yitro-sang mertua- melakukan hal-hal yang baik, seperti :
- bersedia menjaga istri dan anak-anak Musa, namun saat keadan memungkinkan, mengembalikannya kepada Musa
- Dalam memberikan pendapat, Yitro selalu menekankan bahwa ia hanya usul, dan Musa boleh mempertimbangkannya untuk menerima/menolak usulannya
- Usulan yang diberikan Yitro bukan untuk kepentingan pribadi.
- Yitro selalu menghargai keputusan yang diambil Musa,menantunya.
Tips Mertua dari Naomi
Walau banyak orang muda tidak suka dengan mertuanya, namun Rut-menantu Naomi-sangat mencintai mertuanya. Maka ada ungkapan yang sangat indah dari Ruth, bahwa ia tak mau dipisahkan dari Naomi.
Apa yang diperbuat Naomi, sehingga dikasihi menantunya ?
- Iman Naomi tetap teguh walau dalam kesulitan
- Kasih Naomi kepada para menantunya, sangat nyata
Maka sebagai orang lanjut usia, kita harus tetap memiliki hati yang penuh kasih dan hati yamg mau selalu menyembah TUHAN, sehingga anak-cucu akan respek dan mengasihi kita.
Tidak perlu menyesali masa lalu,
Tapi rayakan masa sekarang!
REMAJA JANGAN SALAH JALAN
AGAR REMAJA TAK SALAH JALAN
Xtine wibhowo
Ceramah di Remaja GKMI Sompok, 24 Oktober 2010
Bacaan: I Korintus 8:4-13
Kota Korintus adalah kota pelabuhan yang besar.
Di dalamnya ada banyak kuil pemujaan dewa-dewi.
Salah satu persembahan kepada dewa-dewi adalah daging.
Sebagian dari persembahan itu kemudian dijual di pasar-pasar. Orang yang membeli daging di pasar tidak dapat membedakan mana daging bekas persem-bahan berhala dan mana yang tidak. Maka timbullah persoalan di kalangan orang Kristen di kota Korintus.
Sebagian dari orang Kristen Korintus berpendapat seharusnya orang Kristen tidak makan daging yang dijual di pasar, karena daging bekas persembahan berhala itu dapat berpengaruh buruk terhadap imannya. Sebaliknya, sebagian lagi berpendapat tidak apa-apa makan daging bekas persembahan berhala karena tidak ada pengaruh atau khasiat di dalamnya. Kedua kelompok ini bersitegang, sehingga Paulus perlu menuliskan topik ini dalam suratnya.
Paulus menjelaskan bahwa pada prinsipnya makanan tidak membawa kita lebih dekat kepada Allah. Makan daging bekas persembahan berhala tidak memberi keuntungan; begitu juga tidak makan daging bekas persembahan berhala tidak merugikan. jadi mau makan silahkan, tidak pun tidak apa-apa.
Namun Paulus menyadari ada orang-orang yang mempunyai pemahaman yang berbeda-beda. Bisa jadi orang yang lemah ketika melihat ada saudara yang makan daging bekas persembahan berhala lalu ikut-ikutan, dengan pemahaman akan ada “berkah” dari makanan itu. Padahal saudara yang sedang makan daging bekas persembahan berhala itu merasa tidak ada pengaruh apa-apa dari makanan itu. Maka Paulus menasihatkan: dari pada menjadi batu sandungan bagi iman orang lain, sebaiknya tidak usah makan. Toh tidak makan juga tidak rugi apa-apa.
(Sumber : http://www.sahabatsurgawi.net/dremaja2009/derap_nov0509.html)
APLIKASI
Ada bebarapa hal yang perlu diperhatikan agar kalian tidak salah jalan, yaitu :
- Kemampuan Diri Sendiri (IQ)
Saat akan memutuskan suatu pilihan, misalnya cita-cita atau penjurusan, perlu kalin menyadari mengenai kemampuan intelektual. Memang IQ bukan segalanya, namun tanpa kemampuan yang menonjol, kamu tidak dapat berhasil maksimal. Jangan ikut-ikutan teman dalam memilih sesuatu. Kamu lihat kan, banyak sarajana tidak mendapat pekerjaan? Salah satunya adalah karena mereka tidak memiliki kemampuan yang menonjol di bidangnya.
- Minat-Bakat
Jangan lupakan untuk memeriksa minat dan bakat kalian. Walau kalian mampu di suatu bidang, namun tanpa dibaregi minat dan bakat (kemampuan khsusus), maka kamu tidak akan bertahan dalam bidang tersebut. Sedikit saja menemui kesulitan, kamu akan mundur.
Contohnya saja, seorang yang pandai di bidang matematika. Namun karena ia tidak suka dengan matematika, maka ia cepat bosan dan langsung menyerah jika menemui kesulitan di bidang itu. Beda kalau ia ”jatuh cinta’ dengan bidang matematika. Maka ’hujan-badai’-pun akan ia terjang.
- Kondisi Keungan
Uang bukan segalanya. Tapi tanpa memahami kondisi keuangan, langkah kamu akan berhenti di tengah jalan. Sayang,bukan? Dalam memilih cita-cita, kamu harus memperhitungkan uang/dana yang kamu butuhkan. Kalau dana tidak mencukupi, kamu boleh berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkannya (cari bea siswa,dll), namun jika terasa sangat berat, maka ada baiknya kamu membelokkan arah. Tidak perlu memaksakan kehendak. Toh masih banyak pilihan, bukan?
- Bisa Menghidupi
Periksa dan cari tahu tentang orang yang hidup di bidang yang akan kamu pilih. Bisakah kamu hidup begitu? Misalnya kamu ingin jadi seorang psikolog. Sebelum terjun ke bidang itu, kamu bisa mencoba mengamati kehidupan seorang psikolog. Kemudian renungkan, apakah kamu bisa hidup seperti dia?
- Restu Orangtua
Kamu jangan pernah lupakan restu dan dukungan keluarga (khususnya orangtua). Kepada merekalah kelak kamu akan kembali. Maka jangan remehkan restu orangtua. Jangan pernah kamu melakukan sesuatu tanpa ijin orangtua. Kamu akan menyesal di kelak kemudian hari, jika tidak mempedulikan orangtua.
- Batu Sandungan
Setelah aspek nomor 1-5 kamu pertimbangkan, kamu harus kembali renungkan pilihanmu tadi. Apakah pilihanmu akan jadi batu sandungan bagi orang lain untuk menerima YESUS? Seperti bacaan Alkitab yang tadi kita baca, kita harus melihat bagaimana masyarakat memandang pilihan kita. Misalnya saja, seorang pemudi yang akan bekerja di hotel yang mewajibkannya pulang malam. Secara kemampuan, minat-bakat, keuangan dan restu orang tua, sudah ia miliki. Ia juga merasa bisa hidup dengan penghasilannya sebagai pegawai hotel. Tapi apa kata orang-orang di sekililingnya? Memang ia tidak salah memilih profesi itu. Namun jika itu menjadi batu sandungan bagi sesama, maka sudah seharusnya ia mempertimbangkan hal tersebut.
Tidak hanya dalam pemilihan cita-cita saja, kalian harus mempertimbangkan semua hal di atas. Namun juga dalam segala aspek kehidupanmu, termasuk hobi dan penampilan.
Paulus pernah mengatakan bukan sekedar boleh atau tidak, tetapi berguna atau tidak bagi pertumbuhan rohani kita.
LEMBAR KERJA
| PENILAIAN DIRI SENDIRI
(IQ,BAKAT-MINAT,KEUANGAN, MANDIRI,RESTU ORANGTUA |
BATU SANDUNGAN | |
| CITA-CITA |
|
|
| PENAMPILAN |
|
|
| MUSIK |
|
|
| INTERNET |
|
|
| GAYA BAHASA |
|
JURUS JITU MENJADI GURU BK BAGI REMAJA
“HOROR” –MEMBOSANKAN
Beberapa hari yang lalu, saya iseng melakukan jajak pendapat kecil mengenai pendapat orang tentang guru BK-nya. Hanya sebagian kecil yang mengatakan bahwa guru BK-nya menyenangkan karena tidak memberi PR yang menguras otak. Akan tetapi sebagian besar mengatakan, bahwa guru BK-nya sangat ‘menakutkan’. “Hah?Ngefans ke guru BK? Horor iya…” Begitu salah satu komentar dari mereka.
Ada juga yang berkomentar,”Beliau sangat mbosenin deh. Nge-bahas who am I melulu…”
Apa yang ada di benak kita, membaca komentar mereka? Pasti kita akan geleng-geleng kepala tidak setuju,bukan? Tapi, kita harus mencari penyebab guru BK tidak bisa menjadi idola.Saat seorang guru tidak disukai muridnya, semua pengetahuan yang ia katakan akan kabur bagai debu tertiup angin.
BERUNTUNG-BERSYUKUR
Tentu saja, kita tidak perlu berkecil hati membaca hasil jajak pendapat yang saya lakukan. Toh jajak pendapat itu dilakukan hanya iseng saja. Sebaliknya, kita perlu merasa bersyukur telah menjadi guru BK. Apa sebabnya?
Pada masa sebelum remaja, orangtualah yang paling berperan dalam mendidik anak. Sedangkan di masa setelah remaja (masa dewasa), umumnya karakter pribadi telah terbentu dengan kuat, sehingga orang lain tidak lagi kuat pengaruhnya.
Lantas, bagaimana dengan masa remaja? Pada masa ini, guru dan teman-temannya adalah orang yang sangat memegang peranan dalam kehidupannya.Maka sungguh beruntung jika kita diberi kesempatan untuk terlibat dalam kehidupan para remaja, sebagai pendamping maupun teman.
Dengan merasa beruntung, kita akan membantu remaja menghadapi krisis identitas dirinya dengan rasa syukur,gembira bahagia.
KABUR -BERHASIL
Menurut James Marcia, terdapat empat jenis identitas yang dimiliki remaja, yaitu :
- identity diffusion :saat remaja tidak mengalami krisis (tidak menimbang beberapa
alternatif) dan belum membuat komitmen tentang tujuan hidup
- identity foreclosure : remaja telah membuat komitmen namun belum mengalami krisis,
biasanya pada remaja yang memiliki orangtua otoriter
- identity moratorium : remaja mengalami krisis namun tidak ada komitmen
- identity achievement: : remaja mengalami krisis dan membuat komitmen
Dengan bimbingan orangtua dan guru BK, maka diharapkan remaja akan bisa membuat komitmen terhadap hidupnya berdasar pertimbangannya yang matang.
MASALAH-PELUANG
Berikut akan disampaikan mengenai beberapa masalah yang sering dihadapi remaja dan contoh jurus yang bisa kita lakukan.
|
PERMASALAHAN |
JURUS JITU/PELUANG |
| Tidak bisa memahami orang yang lebih dewasa | v Orang dewasa yang ‘turun’ ke jiwa remaja,karena orang dewasa pernah menjadi remaja
v Tidak tertipu dengan penampilan |
| Kurang percaya diri |
|
| Senang mencoba-coba | ü Arahkan dan bimbinglah mereka. Sebab sebenarnya remaja akan lebih percaya pada orang dewasa daripada temannya Ikecuali dalam hal penampilan fisik)
ü Beri “remote control”dalam hatinya |
| Dekat dengan teman sebaya/kelompok | Peer group counseling |
| Tidak nyaman dengan keadaan fisik | Jika berlanjut, hubungi dokter |
| Ketagihan pada sesuatu | Padatkan jadualnya, terutama kegiatan fisik |
| Tidak simpati/empati | Ajarkan mereka untuk berdiri pada sisi orang lain |
| Pacaran | Menjadi teman ‘curhat’ yang bisa mengarahkan dengan logis |
| Kebutuhan seksual | Sampaikan tentang seksual secara jelas, dengan ekspresi yang sama saat menjelaskan matematika |
|
PERMASALAHAN |
JURUS JITU/PELUANG |
| Suka petualang dan mudah bosan | Humor dan multi media |
| Suka meniru | Kita harus bisa menjadi panutan, karena anak manusia memang jago meniru jika dibanding mahluk lain. |
| Enggan berbincang dengan kita | Mulailah dengan pembicaraan yang ‘tidak berkualitas” namun dengan kuantitas yang cukup |
KONSELING-PENYULUH
Istilah konseling memang tepat diberikan untuk guru yang memberikan bantuan kepada siswa dalam memecahkan masalahnya. Tetapi saya juga senang dengan istilah ‘penyuluhan”, yang memiliki kata dasar “sulu” atau penerang.
Semua orang, termasuk remaja, biasanya telah memiliki tujuan yang baik dalam hidupnya. Tujuan ini begitu nyata dan besar, seperti mercu suar yang nelayan lihat di laut. Namun jika tidak ada suluh-suluh di tepi pantai, nelayan akan tersesat.
Remaja pun demikian, jika tanpa Bapak/Ibu Guru BK, ia bisa tersesat jalan. Tugas kita dalah menyinari jalannya, dengan hati kita!
Selamat dan berbanggalah menjadi GURU BK !
Bapak/Ibu guru kami
Pandai menyanyi
Pandai bercerita, asyik sekali
Kami dibimbingnya dengan sepenuh hati
Jadi orang berguna di kemudian hari
*)Christine Wibhowo,S.Psi,MSi
http://www.facebook.com/christine.wibhowo
(dipresentasikan di UKDW, 15-10-2011)
SUDAHKAH BERTENGKAR HARI INI?
(dimuat di majalah BGKMI no 526,ISBN 0854-5448)
Melempar Sandal?
Judul artikel kali ini sepertinya kok tidak sopan amat ya? Banyak yang meminta dan menganjurkan kita untuk berdamai, ini malah menantang bertengkar.
Beberapa waktu yang lalu, saya sedih saat seseorang remaja mengatakan kepada saya, bahwa salah satu ciri pernikahan harmonis adalah tidak adanya pertengkaran. Saya tidak tahu ia mendapat teori dari mana. Jelas saja ini membuat sedih dan kemudian jadi paham tentang banyaknya orang yang mudah kawin-cerai di saat sekarang. Jangan-jangan karena mereka berpikir, bahwa pertengkaran adalah awal ketidakharmonisan sebuah hubungan.
Dilihat dari arti katanya, maka bertengkar itu adalah berbantahan. Artinya, kedua belah pihak memiliki pendapat yang berbeda dan mereka saling mempertahankan pendapatnya. Karena belum menemukan titik temu, maka kedua belah pihak akan semakin seru dalam berbantahan.
Silakan diperiksa dan diteliti, tidak ada makna ‘berkelahi’, ‘adu kekuatan fisik’ atau “melempar sandal’ dalam definisi bertengkar. Cukup berbantahan saja.
Bagai Sendok dan Garpu
Mari saya ajak Pembaca untuk mengingat-ingat pengalaman kita.
Pernahkah kita bertengkar dengan orang lewat yang tidak kita kenal? Wah, kalau pernah, berarti status kita “waspadalah…waspadalah”. Itu berarti ada gangguan, entah pada kita atau pada orang tersebut. Maksudnya adalah, tidak mungkin kita bertengkar dengan orang yang tidak kita kenal.
Bahkan jika kita terinjak tanpa sengaja oleh orang lain. Tentu kita dengan iklas memaafkannya tanpa marah. Bagaimana jika yang tidak sengaja menginjak kaki kita ini adalah suami/istri kita? Pasti akan menggunakan kata-kata dan tanda seru untuk menegurnya,bukan?
Bahkan sering sekali kita bertengkar dengan pasangan, dengan sahabat bahkan dengan anak sendiri. Mengapa demikian? Karena kita akrab dengan mereka. Di dalam hubungan yang akrab, ada interaksi yang intens antara kita dengan orang tersebut.
Ibaratnya, orang akrab itu seperti sendok dan garpu. Dengan seringnya mereka bersama, maka akan ada banyak benturan. Tetapi benturan antara sendok dan garpu, tidak akan memecahkan piring dan punya satu tujuan, yaitu sama-sama berusaha memasukkan makanan ke dalam mulut kita dengan mudah.
Maka, mana mungkin hubungan yang tidak akrab akan menimbulkan pertengkaran? Justru pertengkaran menunjukkan bahwa kita berhubungan baik dengan orang itu. Akan tetapi pertengkaran kita tidak akan merusak persahabatan dan memiliki tujuan untuk sama-sama mencapai suatu goal yang lebih indah. Bagai kerja sama sendok dan garpu untuk memasukkan makanan ke dalam mulut kita.
Tidak Perlu Ngumpet
Banyak orang mengatakan bahwa jangan pernah orangtua bertengkar di depan anak-anaknya. Akan tetapi kali ini, saya ingin mengajak Pembaca tidak perlu ngumpet lagi jika bertengkar. Asal saja, bertengkarnya seperti sendok dan garpu.
Dengan melihat orangtuanya bertengkar, anak akan belajar bahwa :
1. 1. Ayah dan Ibu bisa saja memiliki pendapat yang berbeda. Dengan begitu, ia paham bahwa ayahnya yang kepala keluarga mau memberi kesempatan kepada ibunya untuk berbeda pendapat dalam memilih pakaian, memilih tempat untuk berlibur atau berbeda selera dalam memilihkan sekolah anak-anaknya.
2. 2. Dalam bertengkar, tidak ada saling mengejek. Tunjukkan kepada anak, bahwa saat kita bertengkar, kita memiliki tujuan agar orang lain memahami perasaan kita dan bukan mengritik orang lain. Daripada mengatakan ,”Kamu memang egois” lebih baik mengatakan,”Saya sedih karena saya merasa tidak kamu perhatikan.”
3. 3.Tidak ada pemotongan pembicaraan saat bertengkar. Tunjukkan kepada anak, bahwa walau kita bertengkar namun kita tetap sabar mendengar lawan bicara kita menyelesaikan pembicaraannya.
4. 4.Tidak meninggalkan lawan bicara dengan emosional. Biarlah anak melihat ayah-ibunya tidak ada yang secara emosional pergi atau membanting telepon saat lawan bicara sedang bicara. Dengan begini, anak belajar bahwa saat kesalpun seseorang harus mengendalikan emosinya.
5. 5.Jangan sungkan untuk minta maaf atau minimal akhirnya menyetujui pendapat ‘lawan’, dengan rela hati. Sehingga anak paham, bahwa akhir pertengkaran adalah bertemunya dua pendapat yang berbeda dengan damai bukan cerai.
Harmonious outside, cold inside?
Ada seorang pendeta yang mengatakan bahwa ia selalu menanyakan kepada setiap calon mempelai,apakah mereka pernah bertengkar. Kalau dijawab, mereka belu m pernah bertengkar, maka pendeta ini minta agar hari pernikahan mereka diundur, sampai mereka bertengkar.
Apa maknanya? Dengan bertengkar, orang akan lebih mengenal pasangannya. Sehingga kelak ia tidak mudah menjadi kaget, bingung dan heran (ora kagetan, ora bingungan, ora gumunan-bahasa jawa), melihat pasangannya saat marah. Jika akhirnya setelah bertengkar mereka tetap akan menikah, itu menunjukkan bahwa hubungan mereka adalah hubungan yang kuat, akrab dan dekat.
Setiap konflik yang terselesaikan dengan damai, itu menunjukkan hubungan Anda dengan orang lain sedang mengalami pertumbuhan. Justru jika kita tidak pernah bertengkar dengan seseorang, itu menunjukkan bahwa kita memilki hubungan yang ayem-adem (damai tapi dingin).
Banyak suami-istri yang nampak ayem di luar tapi adem, bahkan beku di dalam, karena tidak saling bertegur sapa. Kita tidak ingin hubungan kita dengan keluarga akan menjadi seperti itu,bukan?
Periksa saja hubungan Tuhan Yesus dengan murid-muridNya. Pasti banyak terjadi silang pendapat. Tapi toh semua itu membuat mereka saling merindukan dan dekat. Selanjutnya kedekatan ini membuat mereka saling memahami keinginan masing-masing.
Biarlah hubungan kita dengan keluarga, kerabat dan sahabat selalu hangat kadang panas, namun semuanya membuat kita makin naik kelas .
Oya, tulisan saya kali ini tidak panjang lebar, dengan tujuan memberi kesempatan kepada Pembaca untuk lebih banyak merenungkannya. Kalaupun ada Pembaca yang tidak setuju dengan pendapat saya ini, silakan mengajukan jadual untuk kita bertemu dan berbantahan.
Bukankan berbantahan menunjukkan bahwa hubungan kita akrab? SELAMAT BERTENGKAR SEHAT!
TEROBOSAN SEORANG PEREMPUAN SEJATI
TEROBOSAN PEREMPUAN SEJATI
xtine wibhowo
dimuat di Majalah BGKMI, April 2011
BREAKTHROUGH ATAU TEROBOSAN
Menarik sekali thema BGKMI bulan ini, yaitu breakthrough alias membuat terobosan.Apa itu terobosan? Terobosan adalah sikap hati dan tindakan yang dapat melebihi kemampuan kita sendiri. Dengan kata lain, kita dapat menembus batas dan mendobrak keterbatasan yang ada dalam hidup ini. Terobosan yang kita lakukan ini akan mewarnai ‘dunia’ kita. Dunia bisa berarti dunia yang sangat luas ini, bisa juga berarti lingkup kita sehari-hari, misalnya keluarga, sekolah, kampus, pasar, kantor dan masyarakat di sekitar kita.
Lalu, siapakah yang harus melakukan terobosan? Hanya para pemimpin dunia? Tentu saja tidak. Saya percaya, Anda tahu jawabannya. Benar, yang harus melakukan terobosan adalah kita semua. Beberapa orang yang telah melakukan terobosan, salah satu contohnya adalah Bunda Theresa. Dia berani mengambil tindakan yang sangat beresiko, dengan hidup bersama kaum papa,walau awalnya ditentang oleh masyarakat sekitar. Masih banyak orang yang dapat kita katakan telah membuat terobosan dan mengguncang dunia.
Lantas, bisakah kita membuat terobosan dan mengguncang dunia? Bagaimana kalau kita ‘hanya’ seorang perempuan dan bukan seorang pemimpin? Bisakah kita melakukan breakthrough? Sengaja pada tulisan ini, saya mengususkan untuk bicara tentang perempuan. Alasannya adalah karena saya sendiri seorang perempuan, dan juga karena perempuan sering dianggap warga kelas kambing, yang pasti sulit melakukan terobosan.
Oya, mengapa saya menggunakan istilah perempuan dan bukan wanita? Karena wanita memiliki makna seseorang yang punya sifat-sifat seorang putri (yaitu halus, lembut dan tidak bebas mengeluarkan pendapat) dan yang ‘dimiliki’ oleh pria. Maka ‘wanita’ akan sulit melakukan terobosan.
Sedangkan perempuan, sebenarnya bermakna lebih baik, namun mengalami pergeseran di saat sekarang, sehingga tidak sering digunakan. Padahal arti perempuan adalah “empu” atau tuan atau permaisuri atau ‘memiliki’. Dengan menggunakan kata ‘perempuan’, saya harap kita menjadi lebih berdaya dalam menembus batas. Nah, Anda siap, melakukan terobosan bersama saya???
BULAN PEREMPUAN
Mari kita mundur sejenak ke bulan April, yang dapat dikatakan sebagai bulan perempuan. Mengapa demikian? Karena pada bulan tersebut, bangsa Indonesia memperingati hari Kartini. Pasti semua pembaca BGKMI tahu tentang sosok Kartini ini. Betul, dia adalah pahlawan perempuan yang mengangkat derajat hidup perempuan di Indonesia. Ia berani mendobrak tradisi masyarakat saat itu yang sangat tidak memberi tempat bagi perempuan untuk maju.
Selain itu, pada bulan April juga, kita memperingati Jumat Agung dan Paskah. Kedua peristiwa besar tersebut mampu membuka mata dunia, bahwa karakter perempuan adalah karakter yang sangat kuat dan luar biasa.
Pada peristiwa penyiksaan Yesus, Alkitab mencatat bahwa saat itu, murid-murid Yesus yang pria dan nampak tegar itu, menjadi lemah dan saking takutnya melihat penderitaan Yesus, mereka menyangkal bahwa dirinya adalah murid Yesus. Namun pada peristiwa yang sama, para perempuan tetap setia mengikut DIA, meski dalam penderitaan.Kita bisa juga melihat pada peristiwa JUMAT AGUNG. Siapa yang setia mengiring Yesus dan paling akhir berada di kaki Yesus? Ya, mereka yang setia adalah para perempuan. Mereka mengikut Yesus hingga tuntas, hingga Yesus diturunkan dari kayu salib dan dikuburkan.
Selanjutnya, mari kita ingat peristiwa setelah itu, yaitu PASKAH. Para perempuan lah yang setia mengunjungi makam Yesus. Mereka pulalah yang diberi kesempatan oleh Yesus untuk pertama kali menyaksikan kebangkitan Yesus yang luar biasa itu. Dengan peristiwa ini, selain kita menjadi semakin paham bahwa perempuan memiliki sifat yang setia, Yesus juga ingin mengangkat derajat perempuan. Di mata Yesus, kaum perempuan bukan warga kelas kesekian, namun para perempuan juga merupakan warga yang utama alias VIP (very important person). Tetap setia di saat orang lain tidak bisa setia itu bukti bahwa perempuan bisa melakukan terobosan.
VERY IMPORTANT PERSON (VIP)
Sebenarnya jika berbicara bahwa sebenarnya perempuan adalah warga VIP, tidak hanya ada di kitab Perjanjian Baru. Di kitab Perjanjian Lama, pada kitab Kejadian pun, sudah Nampak terlihat bahwa perempuan bisa memegang peran yang sangat penting.
Kejatuhan manusia ke dalam dosa, bukan dimulai oleh kaum pria. Akan tetapi justru dimulai oleh perempuan, yaitu Hawa! Tentu saja ini bukan contoh yang baik, namun sekedar mengingatkan kepada kita bahwa perempuan diberi bekal oleh TUHAN untuk mengubah dunia. Di tangan perempuan, dunia bisa menjadi baik, bisa juga menjadi jatuh dalam dosa.
Nampaknya perbuatan Hawa inilah yang kemudian membuat dunia seolah-olah ‘membenci’ perempuan dan lantas menomorduakan kaum hawa ini. Kesannya, jika ada perempuan maka hancurlah dunia. Maka ada lagu berjudul “no woman, no cry”. Jika tidak ada perempuan, pasti tidak aka nada tangisan.
Tetapi beruntunglah kaum perempuan, karena kemudian Yesus memulihkan keadaan ini, yaitu dengan dipilihNya seorang perempuan untuk melahirkan juru selamat dunia. Siapa perempuan itu? Wah, Anda pasti tahu dengan jelas. Ya, dialah Maria, ibu Yesus. Tentu saja sebenarnya demi untuk menyelamatkan dunia, Yesus bisa secara tiba-tiba turun dari Sorga, seperti dewa-dewa yang ada di film-film. Tidak usah repot harus menjadi bayi dan dilahirkan oleh seorang peempuan. Tapi Yesus kita memang luar biasa. Dengan proses kelahiranNya yang seperti orang biasa, IA ingin menunjukkan kesetaraan dengan kita, manusia berdosa. Di sisi lain, IA juga ingin mengatakan bahwa seorang Juru Selamat saja, butuh perempuan untuk mendidikNya, apalagi manusia biasa. Untuk bertumbuh dan berkembang menjadi seorang yang handal, dibutuhkan perempuan yang juga adalah seorang ibu!
SETIA PADA KELUARGA
Telah diungkap tadi, bahwa perempuan dapat melakukan terobosan dan mengguncang dunia, dengan kesetiaan dan komitmen. Kita setia menjadi istri dari seorang suami, tentulah membutuhkan perjuangan. Apalagi setelah anak-anak lahir dan menyemarakkan pernikahan kita. Biasanya, seorang wanita akan berubah menjadi sosok keibuan, tidak hanya kepada anak-anak tetapi juga kepada suami!
Seringkali inilah yang memicu konflik dalam keluarga.Suami merasa tidak lagi memiliki kekasih hati, sehingga ia mudah tertarik untuk curhat dengan orang lain. Maka sudah saatnya kini, para perempuan membuat terobosan, sehingga bisa menjadi ibu bagi anak-anak, sekaligus tetap menjadi kekasih bagi suami. Oya, jangan lupa untuk memberikan ASI kepada anak-anak Anda, walaupun saat ini banyak ibu yang malas memberikan ASI. Sebuah terobosan adalah saat kita memberikan yang terbaik bagi anak kita (salah satunya adalah ASI), di saat semua orang menentang kita.
PENOLONG BAGI SUAMI
Cindy Jacobs pernah menceritakan, bahwa awalnya ia menganggap bahwa menjadi istri itu harus patuh saja pada suami. Maka, ia membisu saja saat suaminya memberi pinjaman uang kepada orang, yang sebenarnya telah dikenal Cindy sebagai penipu. Akhirnya bisa ditebak, suami Cindy tertipu. Uang dengan jumlah besar tidak dikembalikan dan hidup mereka jadi sulit karenanya. Timbulah penyesalan apda diri Cindy.
Seorang perempuan harus berani melakukan terobosan dengan mengingatkan semua pihak, bahwa Andalah penolong suami. Jika Anda menuruti saja saat suami berbuat salah, maka Anda adalah pecundang dan tidak melakukan breakthough!
Bagaimana jika Anda merasa sebagai korban kekerasan dalam rumah tangga? Nampakanya Anda juga perlu introspeksi, karena jangan-jangan, sikap Andalah yang memicu kekerasan terjadi. Jika kekerasan menimpa Anda, maka jangan sampai Anda pasrah begitu saja. Segera cari akar persoalannya dan beranilah untuk mencari penyelesainnya dengan cara yang elegan dan penuh kasih. Itulah breakthrough!
BERKOMITMEN PADA PEKERJAAN
Siapa bilang, perempuan tidak boleh bekerja dan hanya boleh berdiam diri? Siapa bilang, perempuan tidak boleh menjadi pimpinan dan hanya boleh mengekor suami? Suami memang kepala istri, maka perempuan harus tunduk di bawah otoritas suami. Namun bukan berarti, semua laki-laki di dunia ini, adalah kepala perempuan. Wah, kalau begitu, perempuan tidak bisa mengembangan potensinya untuk kebaikan semua orang.
Saya pernah membaca tentang seorang istri yang memendam talentanya hanya agar suaminya tidak merasa tersaingi. Tentu saja ini tidak benar, karena istri adalah penolong suami. Mustinya ia justru berusaha, agar suaminya tertolong dengan kelebihannya.
Jika perempuan itu bekerja, jangan pernah takut untuk mengejar karier tinggi. Tentu saja,dengan mempertimbangkan keluarga dan pendapat suami. Akan tetapi jika karier dan pekerjaan Anda memberi berkat bagi orang lain, maka Anda harus mengerjakannya dengan sepenuh hati. Itu talenta yang Tuhan berikan kepada Anda, maka sudah pasti Anda tidak boleh mengelak.
THE SHOW MUST GO ON
Anda ingat, bukan, saya menyebut Bunda Theresa di awal tulisan? Ya benar, ia adalah sosok yang berani melakukan terobosan. Salah satu cirinya adalah, setiap perilakunya ia timbang dengan hati nurani dan kepercayaannya padaTUHAN. Jika ia merasa TUHAN senang ia melakukan sesuatu, maka tak ada satupun orang yang bisa menghentikannya.
Para perempuan juga mustinya demikian. Semua tindakan harus dipikir dengan matang dan dipertimbangkan dengan hati dan firman Tuhan. Maka seorang perempuan yang melakukan terobosan tentu tidak akan menjual dirinya atas nama apapun juga.
Maria, ibu Yesus, adalah sosok yang sangat berani melakukan terobosan. Ia berani mengandung tanpa suami. Padahal saat ini saja hamil di luar nikah akan dicaci maki oleh masyarakat, apalagi di jaman itu. Namun karena ia telah mempertimbangkan semuanya dengan hati nurani dan ia yakin itu menyenangkan hati TUHAN, maka apapun kata orang, the show must go on.
Jika Anda juga berpikir demikian, maka saat itu pula, Anda berhasil melakukan terobosan dan mengguncang dunia! Selamat karena Anda memang perempuan sejati!
Ayah, Jangan Lukai Hati Anakmu
AYAH, JANGAN LUKAI HATI ANAKMU
Christine Wibhowo *)
Saya selalu mengamati siapa saja yang datang pada acara-acara parenting (seminar atau ceramah yang berkaitan dengan cara mendidik anak) atau orang yang datang pada acara-acara sekolah. Kebanyakan yang datang selalu kaum ibu. Hal ini dianggap lumrah dan wajar, namun menjadikan saya prihatin. Mengapa?
Jawabannya jelas, yaitu karena tugas mendidik dan membangun karakter anak ada pada ayah, dan bukan pada ibu! Mari kita selidiki kitab 1 Tesalonika 2:7-8. Di sana jelas tertulis tentang peran ayah dan peran ibu. Ya, peran ibu adalah mengasihi, merawat dan mengasuh anak. Atau cobalah Anda kembali menyanyikan lagu Kasih Ibu kepada beta. Menyanyinya agak keras, dong, agar saya bisa mendengar J.
Ada syair yang sangat menarik, yaitu bahwa kasih ibu itu tak terhingga, hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia. Apa artinya? Betul, bahwa seorang Ibu adalah seorang yang tanpa pamrih, hanya mengasihi dan mengasihi. Seorang ibu yang penuh kasih, sudah jelas tidak mampu membangun karakter seorang anak. Bukan berarti bahwa dalam membangun karakter tidak perlu dengan kasih. Namun seorang ibu membutuhkan karakter lain, untuk mendidik anak-anaknya. Lalu, siapakah karakter itu? Jawabnya jelas dan pasti, yaitu : AYAH!
IBU dan AYAH
Hampir semua orang akan mengatakan, bahawa yang paling suka ngomel dan cerewet di rumah adalah ibu. Namun kemarahan dan kecerewetan seorang ibu, tidak berpotensi membuat anak-anak terluka. Mengapa? Karena anak bisa merasakan, bahwa dibalik semua itu, ibu memiliki kasih yang luar biasa.
Anak-anak saya mungkin paling hafal dengan suara saya, karena saya jarang berhenti berbicara di rumah. Adaaaa saja yang membuat saya merasa harus berbicara. Kadang-kadang, saya juga mengancam mereka,” Awas, ya, kalau tidak mau tidur siang,Mama tinggal lho…” Tetapi apa reaksi mereka? Ketiga anak saya akan berunding dan saya mendengar kesimpulannya. “Biarin saja Mama bilang begitu. Kita lihat saja, paling-paling Mama hanya pergi sampai perempatan jalan itu, dan kemudian tidak tega lalu balik lagi ke kita, deh.”
Tetapi lihat saja, kalau ayahnya yang membuat aturan untuk tidur siang. Hanya dengan mendengar suara pagar dibuka saja, anak-anak saya akan berkata,” Wah, Papa pulang tuh,gawat deh kalau liat kita belum tidur. Ayooo, kita semua tiduuur!”
Apakah Anda juga sering mengalami hal semacam itu? Ya, anak-anak memang lebih mendengar kata-kata ayah daripada kata-kata ibu. Bayangkan, jika kata-kata ayah adalah positif, tentu pengaruhnya besar bagi anak. Lantas, bagaimana jika sikap dan kata-kata ayah adalah negatif? Ya, sudah pasti, hati anak-anak akan terluka.
TUHAN sangat menyadari karisma seorang ayah. Maka dalam kitab Tesalonika disebutkan tiga fungsi utama dari ayah. Jika fungsi ini dijalankan, maka berbahagialah ayah-ayah an anak-anak di dunia ini. Tidak akan ada banyak perilaku yang menyimpang.
PERAN AYAH
Berdasar 2 Tesalonika 11-12, peran ayah memang berbeda dengan peran ibu. Maka tidaklah benar, jika ayah dan ibu saling menggantikan peranan atau bahkan bersikap sok pahalwan, dengan mencoba-coba berperan ganda. Dari Sorga, TUHAN sudah memberikan peran kepada ayah dan ibu yang telah disesuaikan dengan karakter ayah dan ibu.
Tentu Anda masih ingat dengan peran ibu di awal tulisan,bukan? Ibu memiliki peran untuk berperilaku ramah, mengasuh, merawat dan mengasihi anak-anaknya, tanpa harap kembali. Artinya, jika suatu hari saya marah dan mengatakan kepada anak saya,” Kok kamu masih saja memalukan Ibu dengan nilai ulangan yang pas-pasan? Padahal kan sudah diikutkan les ini itu?” Itu berarti saya ibu antagonis, yang member dan harap kembali. Anda sepakat,kan?
Lantas, apa peran Ayah?
1.menasihati anaknya
Hai, Ayah, apakah Anda menyuruh istri Anda untuk menasihati anak Anda yang sedang salah arah? Itu bukan langkah yang tepat! Karena menasihati adalah tugas seorang ayah. Mungkin dugaan saya adalah telinga dan hati seorang anak telah didisain untuk peka terhadap suara Ayah dibanding suara Ibu. Apa jadinya jika seorang Ayah sibuk berbisnis dan tidak ada waktu untuk menasihati anaknya? Anaknya akan mengalami kekosongan hati dan kelak, ia akan mengalami luka hati. Akibatnya, ia salah dalam bergaul, salah memilih jodoh, dan berperilaku menyimpang.
2. mendisiplin dan menguatkan hati
Seorang Ibu yang penuh dengan belas kasih kepada anak, tidak mungkin bisa mendisiplin anak-anaknya. Ibu banyak tidak teganya. Maka peran ini harus dilakukan oleh ayah. Ketika seorang anak takut menghadapi ujian, dimanakah Anda sebagai seorang ayah? Apakah Anda menguatkan hatinya dengan mengatakan,”Ayo, kamu pasti bisa,Ayah mendukungmu.” Atau jangan-jangan Anda malah absen saat anak-anak sedang membutuhkan dukungan Anda?
Seorang ayah juga harus bisa menjadi contoh tentang kedisplinan dan komitmen. Ayah harus menunjukkan bahwa ia sangat berkomitmen menjaga dan mengasihi keluarganya. Ayah tidak selingkuh dan tekun bekerja demi keluarga. Ayah tidak menyakiti hati Ibu dan anak-anak. Seorang Ayah harus bisa bersikap tegas dalam mengambil keputusan dan bukannya lembek.
Teladan yang diberikan oleh ayah, akan membuat hati anak menjadi kuat, utuh dan tidak bolong. Bagaimana jika Ayah tidak menjalankan perannya? Hati anak akan penuh dengan lubang alias mengalami luka-luka yang sulit disembuhkan dan membuat anak berperilaku yang menunjukkan lukanya. Benci, sikap permusuhan, balas dendam dan hidup dalam lembah kekelaman.
AYAH DAN BUKAN IBU
Penelitian membuktikan bahwa banyaknya gangguan perilaku dan gangguan psikologis, dialami oleh orang-orang yang terluka hatinya. Ketika diwawancara secara mendalam, hampir semua kaum homoseksual/lesbian,pecandu narkoba dan perbuatan kriminal yang lain, semuanya menjawab bahwa mereka sangat membenci ayahnya. Dengan kata lain, ayahnya tidak berfungsi, maka anak-anak menjadi tawar dan luka hatinya.
Anda tentu masih ingat cerita anak-anak Imam Eli, yang berperilaku sangat kurang ajar. Hal ini terjadi, karena Imam Eli tidak tegas dalam member I disiplin. Atau kisah tentang Adonia , anak Daud yang rusak perilakunya, karena tertulis bahwa Daud tidak pernah menegurnya (1 Raja-Raja 1:1-6).
JANGAN LUKAI HATI ANAKMU
Tidak ada dalam Alkitab perintah kepada Ibu, kakek, nenek atau paman-bibi untuk tidak menyakiti hati anak. Namun perintah itu diberikan untuk ayah. Kita bisa bayangkan betapa hancur dunia ini, jika generasi penerus berperilaku tidak baik, karena luka hati yang disebabkan oleh ayah.
Pada intinya, Ayah yang tidak berfungsi, menyebabkan generasi berikutnya mengalami luka-luka hati. Cara menyembuhkan hati yang terluka, sangatlah sulit. Maka yang lebih baik adalah mencegahnya, dengan memaksimalkan peran ayah. Lalu bagaimana jika Ayah absen (karena meninggal dunia, bekerja di luar kota/negri)? Nampaknya perlu satu sesi seminar untuk membahas masalah ini J. Karena, seorang ibu tidak bisa berperan ganda seorang diri.
Ada kisah nyata dari seorang gadis berusia 19 tahun, sebut saja ia Bunga. Ia mengatakan, awalnya ia membenci ibunya.Dia tahu, ibunya salah karena kata-katanya kasar, maka ia tidak ingin meniru. Tetapi pada kenyataannya, justru tanpa ia sadari, ia juga sering berkata kasar kepada siapapun . Ia kemudian merenung, dan menyimpulkan bahwa ia dan ibunya sebenarnya sedang mengalami hati yang luka. Mengapa? Karena ayahnya adalah seorang yang tidak bertanggung jawab, suka mabuk dan main judi. Setiap bertemu dengan ibunya, sang Ayah selalu memaki dengan kata-kata yang tidak pantas diucapkan seorang lelaki kepada keluarganya.
Bunga dan ibunya, tidak berani melawan sang ayah. Mereka hanya bisa memendamnya dalam hati. Tidak perlu waktu lama, hati yang penuh dendam ini akan berlubang dan menimbulkan luka. Jika hati sudah luka, ia akan menularkannya kepada siapa saja yang ia ajak berinteraksi. Mengerikan,bukan?
Saat ini, Bunga sedang mengikuti terapi ‘trauma healing” atau terapi memaafkan, agar hatinya pulih. Terapi ini berlangsung lama dan tidak mudah. Ia sudah terlanjur menjadi lesbian, karena sangat membenci ayahnya.
Pengobatan memang lebih sulit daripada mencegahnya. Maka, Hai Para Ayah, jangan pernah lukai hati anak-anakmu. Andalah oknum yang sangat berpotensi menyakiti hati anak Anda.Tidak ada orang di muka bumi ini, yang bisa menyakiti hati anak, setajam Anda.
Tetapi itu juga berarti, anak-anak yang sehat secara psikis, jasmani dan rohani, pasti memiliki seorang Ayah yang takut pada Tuhan sehingga melakukan perannya dengan maksimal.
Oya,apakah Anda ingat, mengapa Bangsa Israel harus diputar-putar oleh Tuhan selama 40 tahun sebelum diijinkan masuk ke dalam tanah perjanjian? Ya, karena bangsa Israel seringkali gagal meyakini kekuasaan dan kasih TUHAn yang sebenarnya selalu menyertai mereka. Pertanyaan selanjutnya adalah, menagapa mereka gagal mengenal kasih TUHAN, selalu penuh kritik dan bersungut-sungut? Jawabnya adalah karena selama bertahun-tahun mereka mendapat perlakuan buruk dari Bangsa Mesir, sehingga hatinya terluka. Hati yang terluka, akan sulit mengenal kasih.HIdupnya getir, penuh curiga, pahit dan perilakunya tidak berada di jalan TUHAN.Nah, Ayah, Anda tidak ingin anak-anak tidak mempunyai kasih,bukan? Kuncinya satu, jangan sakiti hati mereka!
A
I LOVE YOU, DADDY
Sejak hari ini, saya ingin melihat banyak para ayah yang hadir di seminar parenting, yang membeli buku tentang parenting, yang selalu punya waktu untuk mendidik anak, di kala sedang tidur, duduk dan berjalan!
Biarlah anak-anak kita dengan bangga menyanyi lagu I LOVE YOU DADDY….
Saya cuplikan beberapa syairnya, untuk Para Ayah :
You understand me….
You teach me how to pray..
And you play the game I love to play
I have no fear here when you are near
You guide me through the dark is night
I love you Daddy…
You are my hero (and you always in my dream)
I love you daddy oh daddy
You are my superstar
I wanna show you
I’ll be as strong as you
When I grow up I still look up to you
So have no fear here I believe here
(sumber tulisan: Ev. Daniel Alexander)
*)staf Pengajar Fakultas Psikologi, pembicara seminar dan penulis buku parenting
(dimuat di BGKMI, Maret 2011)
SETIA TAPI TIDAK BUTA (dimuat di majalah BGKMI, Februari 2011)
SETIA TAPI TIDAK BUTA
Di ruang konseling psikologi,saya sering menjumpai sepasang kekasih yang berusaha setia, walau sudah tidak ada kecocokan lagi. Istilah mereka adalah “sudah tidak jatuh cinta lagi”.
Mereka bilang,”Malu kalau kami harus batal menikah,karena semua orang sudah tahu kalau kami sepasang kekasih. Biarlah walau di hati kami sudah tidak ada cinta, tapi paling tidak dari luar, orang akan melihat bahwa kami adalah pasangan yang setia.”
Bagaimana komen Anda? Kalau menurut saya sih itu setia konyol.
Dengan kata lain, setia buta!
Dalam berpacaran dan menjalin hubungan,kesetiaan memang perlu, tapi bukan setia model demikian.
Ada juga kisah tentang seekor anjing di Jepang yang terkenal karena kesetiaannya. Redaksi majalah BGKMI juga sangat terkesan dengan kesetiaan anjing ini. Saking setianya anjing ini, sampai-sampai ada legenda mengenai seekor anjing di Jepang yang bernama Hachiko, yang rela menunggu tuannya yang telah tiada selama sepuluh tahun di stasiun Shibuya, jepang. Untuk mempertingatinya, dibuatlah patung Hachiko.
SETIA DALAM HAL APA?
Lalu, bagaimana sih setia yang benar?
Setia adalah dapat dipercaya dan tidak mudah bosan dengan rutinitas. Saya setuju kalau Hachiko disebut anjing yang setia, namun kesetiaan yang kita perlihatakan tentu lebih dari setia yang hanya kebiasaan, tapi justru kesetiaan karena kerelaan dan kesabaran.
Seorang ibu yang baru saja melahirkan bayi, tentu gembira tiada tara. Namun jika bayinya rewel di tengah malam dan meminta ASI, apakah Ibu tetap bisa bersukacita dan tidak lelah? Kalau boleh jujur, pasti dia akan menjawab, dia tidak suka keadaan ini. Tapi dia rela melakukan semua yang tidak ia sukai itu. Karena apa? Jawabnya jelas, karena ia cinta dan setia pada tugasnya. Ini beda lho, dengan setia buta, karena Ibu memiliki cinta, dan bukan paksaan.
Lalu dalam hal apa saja kita harus setia?
1. SetIa terhadap tugas
Orang yang percaya kepada TUHAN, pasti percaya bahwa tugas dan pekerjaannya adalah anugerah TUHAN. Maka ia akan melaksanakan tugas itu dengan sungguh-sungguh dan disiplin.
Saya punya teman dosen, sebut saja bapak Y, yang juga memiliki banyak proyek di luar pekerjaan utamanya, yaitu member i kuliah. Jika banyak orang kemudian lebih memilih proyeknya yang jelas-jelas lebih memberikan penghasilan yang menarik, maka Bapak Y tetap setia member kuliah walau jadualnya sangat tidak mengenakkan, yaitu hari Senin, jam 07.00.Mahasiswanya mengenal beliau sebagai dosen yang disiplin, tidak pernah kosong kuliahnya dan cermat dalam mengoreksi tugas-tugas mahasiswa.
Saya salut pada beliau, di tengah kesibukannya yang segunung, ia tetap setia dengan tugasnya sebagai pendidik. Orang yang setia dengan tugas, akan benar-benar bertanggung jawab atas semua yang ia lakukan , termasuk tidak korupsi waktu dan uang. Dengan begitu pekerjaan akan benar-benar menjadi berkat bagi orang lain.
Ibu rumah tanggapun memiliki tugas yang membutuhkan sikap setia.Ibu yang setia adalah ibu yang dengan senang hati memberikan ASI eksklusif pada bayinya, di tengah maraknya susu formula. Ia akan mengatur kehidupan rumah tangga dengan penuh dedikasi. Ia tidak perlu pintar memasak, tetapi ia bisa mengatur agar suami dan anak-anaknya bisa makan teratur. Ia tidak harus melakukan sendiri pekerjaan beres-beres rumah, namun ia bisa menemukan cara agar rumahnya selalu rapi dan menyenangkan.Itulah setia.
2. Setia Terhadap Tiap Hubungan
Kita akan dapat dikatakan setia jika kita telaten menjaga hubungan dengan orang lain, termasuk dengan pasangan kita. Banyak yang mengatakan bahwa media internet sering membuat pernikahan goncang karena pasangan lebih suka chatting (ngobro) dengan teman di dunia maya. Namun di sisi lain, jika kita bisa menggunakan dengan bijak, media internet bisa mendekatkan yang jauh. Tetapimenjalin kontak dengan teman-teman lama dan baru itu adalah salah satu cara kita untuk menunjukkan kesetiaan kita kepada teman-teman.
Menjaga rahasia teman dan pasangan kita, kita juga dapat dikatakan bahwa kita adalah setia/loyal. Banyak hubungan yang hancur, karena salah satu pihak atau kedua belah pihak tidak bisa menjaga rahasia.
Jangan lupa, setia kepada TUHAN juga dapat dilihat dari cara kita menjaga hubungan manis dengan TUHAN. Jika kita setia pasti kita tidak ingin melukai hati TUHAN dengan cara apapun. Apalagi kita tahu TUHAN kita sangatlah pencemburu, maka orang yang setia adalah orang bisa menomorsatukan perasaan TUHAN.
Bagaimana dengan perkawainan? Tentu saja, kesetiaan adalah wajib hukumnya. Setia dalam pikiran, perkataan dan perilaku. Ngomong-ngomong, mungkin perilaku Anda tidak selingkuh, tetapi apakah Anda merasa risih jika seandainya pasangan Anda membaca/mendengar obrolan Anda dengan teman Anda? Jika jawabnya adalah “ya’, mungkin Anda perlu tunduk kepala untuk instrospeksi. Jangan-jangan Anda mulai tidak setia.
BAGAIMANA SETIA ITU?
Telah saya singgung sebelumnya bahwa kesetiaan kita tentu berbeda dengan kesetiaan anjing yang tidak memiliki akal budi. Maka semua yang kita lakukan harus dengan akal sehat, termasuk saat setia.
Apa maksudnya?
a. Bukan karena terpaksa
Seorang suami pernah berkata bahwa sebenarnya ia telah bosan dengan istrinya dan ia lebih suka curhat dengan teman-temannya. Namun jika sampai saat ini mereka tidak bercerai, semata-mata karena agamanya melarang perceraian. Jadi, suasana rumah seakan-akan panas tiap hari,karena semua hal bisa memicu pertengkaran. Rasa terpaksa semacam ini, tidak dapat menghasilkan rasa setia yang optimal.
Demikian juga dengan pelayanan TUHAN tidak ingin kita melayani karena terpaksa. Terpaksa menjadi majelis gereja, pengurus komisi, atau song leader, adalah pelayanan yang sia-sia di mata TUHAN.
Anda ingat bukan,dengan cerita saya tentang ibu yang terbangun dari tidurnya karena bayinya rewel? Nah, pelayanan juga seharusnya seperti itu. Mungkin akan ada banyak situasi yang tidak menyenangkan dan awalnya kita juga sakit hati, namun kita RELA melakukannya tanpa terpaksa. Itulah setia pada YESUS.
Saat kita dipilih menjadi pengurus, tentu ada rasa enggan, namun jika kita rela melaksankannya, itulah setia.
b. Bukan Karena Takut Dihukum.
Saya pernah mendengar cerita tentang seorang pemuda yang selalu rutin membaca Renungan Harian setiap pagi. Suatu saat ia bekerja di ibu kota dan kemudian menikah. Pekerjaan dan macetnya jalan, mengharuskan ia harus berangkat pagi-pagi benar dan pulang setelah pukul 19.00. Sampai di rumah, ia harus meluangkan waktu untuk anaknya.
Ia sangat letih dengan keadaan ini. Maka ia seringkali tidak lagi sempat membaca Renungan Harian di pagi hari. Ia kemudian merasa sangat berdosa dan putus asa.Ia takut kena hukuman dari TUHAN. Ia minta ampun tiada henti. Itulah yang saya sebut sebagai setia karena takut dihukum. TUHAN tentu ingin kita melayani, berdoa dan membaca firmanNya, namun bukan dengan dilandasi ketakutan semcam itu. Tentu saja, situasi saat kita lajang akan berubah dengan situasi kita saat sudah menikah. Ini akan membuat ritme pelayanan dan ritual kita juga akan berubah. Namun kesetiaan bukan dilihat dari perubahan ritme, namun dilihat dari motivasi kita dalam melayani. Bukan karena takut hukuman, namun semua kita lakukan karena menyadari dengan sangat anugerah TUHAN.
Demikian pula perubahan komunikasi antar suami dan istri. Mungkin dengan berjalannya waktu, akan ada perubahan di sana dan di sini. Dulu sangat romantis, sekarang hanya agak romantis. Dulu hanya berdua, sekarang selalu bersama anak. Memang banyak perubahan, namun kesetiaan bukan berarti tidak ada perubahan. Kesetiaan membuat kita terus berkomitmen, bukan takut dihukum. Kita tidak bertindak kriminal bukan hanya karena takut dihukum, bukan? Tetapi jelas karena komitmen kita. Itulah setia!
c. Karena Pilihan
Jelas sudah, kita setia bukan karena takut hukuman dan bukan karena terpaksa. Setia bukan karena keadaannya selalu sama atau karena kita gembira, namun karena kita MEMILIH untuk setia.
Suami dan istri tidak bisa menyalahkan begitu saja adanya godaan dari luar yang membuat mereka selingkuh.Toh mereka adalah manusia yang diberi kebebasan memilih, yaitu untuk setia atau selingkuh. Kalau yang kita lakukan adalah pilihan kita, maka apapun keadaan dunia, kita bisa berkata bahwa the show must go on.
Kita juga akan sabar dalam penderitaan. Jika doa kita belum dijawab TUHAN atau jawabanNya tidak sesuai dengan harapan kita, kita tetap bisa setia dan tidak menyalahkan TUHAN, karena kita sendiri yang memilih untuk setia.
Saya selalu menganjurkan kepada orangtua agar menciptakan kondisi sedemikian rupa, sehingga kegiatan belajar seolah-olah adalah pilihan anak sendiri sendiri. Lihat saja, anak Anda. Disuruh apapun, jika itu bukan kemauannya, pasti akan sulit sekali membuatnya mau mengerjakan tugas yang kita berikan kepadanya. Tapi kalau ia mengerjakan tugas yang ia pilih sendiri, pasti tugas itu akan dikerjakan hingga tuntas, tanpa rasa bosan. Maka daripada kita mengatakan,”Ayo, cepat belajar.kalau tidak mau, Papa pukul lho!” Akan lebih baik jika mengatakan,”Ayo, silakan pilih. Membersihkan seisi rumah ini dan harus selesai dalam waktu 15v menit atau belajar?’ Sudah hampir dapat dipastikan, anak akan memilih belajar. Karena itu pilihannya sendiri, anak akan melakukan dengan tekun, tanpa rasa bosan, dan kuat menghadapi godaan.
Demikian juga melayani TUHAN, mungkin bukan suatu yang menyenangkan selamanya. Namun jika itu pilihan kita, maka apapun konsekuensinya, kita rela melakukannya dengan setia. Ayub adalahs eorang tokoh yang sering dijadikan contoh sebagai orang yang setia.
BUKAN BUTA DAN ASAL IKUT-IKUTAN
Setia akan bertahan lama jika bersumber dari hati, dan bukan sekedar ikut-ikutan. Mungkin ada sebagian orang yang selalu mengikuti arus demi rasa aman. Kalau sekarang musimnya banyak yang setia pada Pemimpin A, maka banyak orang yang ikut-ikutan menyukai dan setia pada A. Jika besok ada yang mencaci maki A, maka orang segera ikutan mencaci A, tanpa menelaah lebih dahulu sumber masalahnya.
Ada banyak orang yang hanya karena demi mengejar kenikmatan dunia, tidak lagi setia pada TUHAN. Mengapa? Karena rasa setianya hanya sekedar ikut-ikutan dan membabi buta, sehingga saat ada angin sedikit saja, ia telah oleng. Ia tidak kuat menahan ujian dan tidak tekun saat menghadapi kesulitan.
Marilah kita periksa diri kita. Pernahkan kita merasa bosan melayani dan bosan dengan kehidupan pernikahan kita? Seseorang pernah mengatakan kepada saya,”Aduuuh, lama amat ya, menunggu ‘sampai maut memisahkan kita’ ? Rasanya saya sudah tidak tahan nih, dengan kelakuakn istri saya. Jika itu juga terjadi pada Anda, mungkin Anda perlu membaca ulang tulisan saya ini dan segera menjawab pertanyaan,”Apakah Anda setia?” Salam Setia!
(beberapa poin, disarikan dari khotbah Pdt. Juswantori Ichwan)
ADVERSITY QUOTIENT for parent’s time (Tri Tunggal)
ADVERSITY QUOTIENT (AQ)
xtine wibhowo *)
Apa itu AQ?
Adversity quotient (AQ) adalah kecerdasan yang dimiliki seseorang sehingga ia bisa mengubah tantangan menjadi peluang/kesempatan.
AQ sebenarnya bukanlah konsep yang baru, karena sejak dahulu pun, kita sudah mengetahui konsep ini, hanya saja dengan istilah berbeda. Anda pasti sering menggunakan istilah “ulet” , “tahan banting”, “tangguh” dan “tidak mudah menyerah”. Semua istilah itu pada dasarnya sama dengan AQ.
Agar lebih mudah, anggap saja AQ itu seperi aki pada mobil. Daya penggerak seseorang terutama di saat menghadapi kesulitan/tugas/ujian.
Pasti Anda mengenal TUhan Yesus dan Rasul Paulus,bukan? Bisakah Anda menjelaskan kepada putra-putri kita, mengapa mereka merupakan contoh pribadi-pribadi yang memiliki AQ tinggi? Silakan Anda mencari contoh tokoh yang lain,dan jangan lupa, ajak anak Anda untuk mencari orang yang ber-AQ tinggi.
Sekilas Tentang AQ
Beberapa tokoh mengatakan, di dalam AQ orang dapat digolongkan ke dalam 3 tipe, yaitu :
1. Quiter = AQ rendah. Pada tipe ini, anak berusaha selalu menjauh dari permasalahan
2. Camper= AQ sedang. Anak dengan tipe ini cepat merasa puas dengan keadaan yang ia capai sekarang
3. Climber = AQ tinggi. Dengan memiliki AQ tinggi, anak akan menyambut setiap tantangan, semangat dan motivasinya berasal dari dalam diri sendiri.
Apa Pentingnya AQ?
Saat ini adalah masa globalisasi (tanpa batas), sehingga persaingan di dalam kehidupan semakin ketat.
Hanya orang-orang yang kompetitif, tidak mudah putus asa dan siap menerima tantangan saja yang akan berhasil dalam kehidupan.
Maka orang-orang dengan AQ rendah akan tergilas masa, sedangkan orang dengan AQ tinggi akan berhasil dan menjadi pemenang. Jadi keberhasilan anak dalam ujian bukan melulu ditentukan oleh IQ tetapi juga oleh AQ.
Bagaiman Caranya ?
Setiap anak dilahirkan sebagai pemenang, apapun latar belakang kelahirannya. Walau demikian, orangtua adalah wakil TUHAN untuk membuat potensi anak menjadi nyata. Maka orangtua tidak bisa hanya diam dan menyerah (berserah tentu wajib, namun bukan menyerah).
Lantas, bagaimana meningkatkan AQ anak ?
1. Ajar anak untuk menyelesaikan masalahnya sendiri yang sesuai usianya. Jangan pernah orangtua memikul masalah mereka di bahu kita.
2. Biasakan selalu untuk mendapatkan sesuatu dengan berjuang.
3. Latih anak menganalisa penyebab masalah, dan fokus pada masalah yang bisa ia kendalikan.
4. Bantu anak memecah masalah menjadi kecil, sehingga ia bisa memecahkannya/mencapai tujuannya.
5. Ayah-Ibu berperan optimal. Artinya, karena peran ayah dan ibu itu berbeda, maka kedua orangtua tidak boleh sering absen.
6. Minta bantuan pihak ketiga, bisa orang lain, bisa juga alam untuk mendidik anak.
7. Tabunglah keberhasilan dan juara bagi anak. Ingat,bukan, anak dilahirkan sebagai pemenang?
8. Jadilah contoh bagi anak-anak, baik dalam perilaku, kata-kata maupun perasaan/pikiran. Hal ini dikarenakan anak manusia adalah peniru ulung.
Evaluasi AQ
Jika kita telah melakukan semua usaha itu, segeralah lakukan evaluasi agar kita tahu anak kita telah mencapai climber atau belum. Kalau anak belum mencapai AQ yang tinggi, orangtua dilarang memiliki rasa bersalah.
Tidak semua orang mendapat anugerah menjadi orangtua. Maka jika kita menjadi orangtua, tentulah sudah diperhitungkan oleh TUHAN. Itu artinya kita semua pasti bisa, asalkan kita selalu bahagia, gembira dan pantang menyerah.
EVALUASI AQ ANAK
| NO | URAIAN | YA | KADANG | TIDAK |
| 1 | Sering beralasan untuk menghindari tugas | 1 | 2 | 3 |
| 2 | Tidak punya teman akrab | 1 | 2 | 3 |
| 3 | Tidak tahu cita-citanya | 1 | 2 | 3 |
| 4 | Sering mengatakan “males ah”, “konyol itu”, “nanti-nanti saja deh” | 1 | 2 | 3 |
| 5 | Tidak senang banyak perubahan | 1 | 2 | 3 |
| 6 | Punya semangat tetapi cepat puas | 1 | 2 | 3 |
| 7 | Sering mengatakan “wah, yang penting lulus”, “yang penting sudah mencoba” | 1 | 2 | 3 |
| 8 | Mengerjakan tugas tanpa disuruh | 1 | 2 | 3 |
| 9 | Berani mencoba hal baru | 1 | 2 | 3 |
| 10 | Hampir semua orang yang dikenalnya, mengetahui potensinya | 1 | 2 | 3 |
| TOTAL |
Keterangan Total Nilai
10 – 15 = AQ rendah
15 -25 = AQ sedang
25 ke atas = AQ tinggi
Anak yang special pasti diberikan untuk orangtua yang spesial juga.
*) Christine Wibhowo,S.Psi,MSi (xtine_w@yahoo.com)
Staf Edukatif Fakultas Psikologi UNIKA Soepra
Pembicara Seminar dan penulis buku Parenting
Jalan Serta YESUS
JALAN SERTA YESUS
(dimuat dalam Majalah GKMI edisi Januari 2011)
Kita mungkin sering mendengar orang mengeluh,”Saya selalu berbuat baik. Menolong orang, menyumbang ini-itu, tapi kok hidup susah melulu?” Sebagai anak Tuhan, tentu kita tahu jawabannya. Bahwa Tuhan tidak butuh sogokan dari kita dengan perbuatan baik. Kewajiban kita hanya satu, yaitu jalan menurut jalanNya. Itu dulu, yang lain-lain akan menyusul.
Suatu hari, saya pernah ingin sekali mengepel rumah. Rasanya segar bermain air sekaligus membersihkan rumah. Tetapi karena di atas meja masih berantakan, saya menyuruh anak saya untuk membereskannya, sementara saya akan beristirahat sejenak. Tidak lama kemudian, saya bergegas mencari alat pel dengan semangat. Tapi apa yang saya lihat?
Anak saya sedang mengepel lantai, tetapi meja tetap belum dibereskan. Tentu saja saya marah, karena saya sedang ingin mengepel lantai. Apakah perbuatan anak saya tidak baik? Tentu saja baik, tetapi dia tidak menuruti kehendak saya. Saya memang bisa memaafkannya tetapi hati saya jadi tidak merasa senang 100%. Demikianpun Tuhan. Ia suka dengan pebuatan baik kita. Tetapi itu bukan intinya. Ia hanya ingin, kita menurut jalanNya.
Apa Artinya Menuruti Kehendak Tuhan?
Yesus pernah berkata, bahwa kehendak Bapa adalah makananNya. Menurut Ev, Daniel Alexander, makanan memiliki dua makna, yaitu pekerjaan sehari-hari dan bisa membuat kuat. Maka pekerjaan anak-anak Tuhan adalah menuruti dan melakukan kehendak Tuhan.Bukan berarti kita segera harus beralih profesi menjadi pendeta. Di dalam pekerjaan kita yang sekarang pun, tidak menjadi penghalang untuk melakukan kehendakNya sehari-hari, seperti kita makan.
Lalu apa kehendak Tuhan, yang harus kita lakukan? Kata Daniel Alexander, kita semua sudah tahu kehendakNya, yaitu agar semua orang selamat. Jadi tidak perlu lagi berdoa mencari-cari kehendakNya. Saat kita memilih untuk naik angkot saja, kita pasti sudah tahu rutenya. Maka kalau kita sudah niat untuk berjalan seturut dengan kehendakNya, maka sudah pasti kita tahu arahNYa, yaitu agar kita menjadi kitab yang terbuka. Setiap orang yang membacanya, akan melihat Yesus. Di dalam kita belajar, bekerja dan hidup berkeluarga, kita harus berusaha agar orang lain yang melihat, akan semakin percaya dengan Tuhan.
Jika kita memiliki saudara yang hidup bersama dengan kita, tetapi ia tetap membenci Yesus, berarti hidup kita tidak menurut kehendakNya. Atau adakah orang lain yang hidup bersama dengan kita dalam waktu lama, tetapi hatinya tetap tertutup bagi Yesus? Siapa tahu, sekarang saatnya kita untuk memeriksa diri, jangan-jangan kita belum jalan di jalanNya.
Setelah kita mengikuti kehendakNya, maka seperti makanan, kita akan dibuat segar dan sehat. Iman kita akan semakin kuat. Semakin kuat juga saat menghadapi persoalan hidup. Tidak mungkin orang yang mengikuti jalan dan kehendak Tuhan, akan mudah patah semangat dan hidup tak menentu bagai roda pedati. Justru ia akan kuat dan siap selalu terbang tinggi bagai rajawali!
Apa Tandanya?
Di awal tahun ini, Anda tidak mau hidup mengikuti arus begitu saja,bukan? Dengan hanya mengikuti arus, kita akan diombang-ambingkan gelombang. Hidup pun naik turun tak terkendali. Apa tandanya kita berada di jalanNya? Pertama, kita memiliki disiplin diri sehingga tidak mudah menyerah pada keadaan. Tentu saja kita harus berserah kepada Tuhan, tapi bukan menyerah pada keadaan.
Orang yang mengikuti jalan Tuhan, juga pasti dapat membuat tujuan-tujuan yang realistis dan berusaha menggapainya. Anda pasti pernah mengenal seseorang yang dengan penuh keyakinan, mentargetkan bahwa sekian tahun ke depan, ia akan memiliki rumah mewah. Padahal ia orang yang malas bekerja. Bukankah ini konyol?Setelah ia gagal mencapainya, ia barulah frustrasi dan mengatakan bahwa Tuhan tidak menolongnya.
Berjalan di jalan Tuhan membuat seseorang optimis sekaligus realistis. Keyakinan ini akan membuatnya selalu berusaha sekuat tenaga untuk meraih mimpinya. Hasilnya ia serahkan pada Tuhan. Saat ia gagal, ia bisa mengambil tindakan nyata untuk bangkit kembali. Jalan Tuhan memang tidak mudah, namun banyak emosi positif di sana. Banyak harapan dan cinta. Maka orang yang berjalan dengan Tuhan, tidak akan kesepian. Hatinya tidak kosong dan tidak bolong. Namun justru dirinya penuh dengan cinta. Sehingga, tidak ada waktu buatnya berselingkuh dan mencari-cari cinta dari orang lain. Justru ia bisa membagi kasihnya kepada orang lain.
Bagaimana Jika Tidak Di JalanNya?
Jalan Tuhan memang telah tersedia. Namun Tuhan tidak memaksa kira untuk berjalan bersamaNya. O, tentu saja Ia mengajak kita dan sangat berharap kita menerima ajakanNya. Tetapi semua adalah keputusan kira. Saya sering geleng kepala jika ada orang yang gagal dalam karier atau dalam berkeluarga, dan mengatakan bahwa ini sudah digariskan Tuhan kepadanya. ”Saya tinggal menjalaninya dengan iklas.” Kata orang psikologi, ini namanya rasionalisasi atau menghibur diri agar orang lain memaklumi perilakunya. Jelas ini tidak seturut dengan kehendakNya Saya punya kenalan, sebut saja si A. Jika menghadapi persoalan, ia bukannya mencari solusi dengan tindakan nyata, tetapi malah melarikan diri dengan bermain judi dan menggunakan narkoba. Malam ia berbuat begitu, besok paginya ia memberi makan beberapa pengemis. Katanya, perbuatannya itu untuk membayar dosanya. Anda pasti paham,bukan, bahwa A tidak berjalan di jalan Tuhan, apapun perbuatan baiknya.
Beberapa contoh sebelumnya memang kelihatan ’tidak benar’nya. Pornografi, mencuri, meggunakan narkoba, menyakiti orang lain, dan tidak mau memaafkan orang lain memang kelihatan jahatnya. Banyak dari kita yang sangat jauh dari perbuatan itu. Namun apakah itu berarti kita sudah berada di jalanNya?
Seringkali kita berperilaku yang seolah-olah benar, namun sejatinya itu menunjukkan kita telah menyeleweng dari jalan Tuhan. Itu terjadi saat kita membiarkan diri kita berkubang dengan rasa bersalah yang tidak ada habisnya. Orang lain, mungkin akan menilai kita adalah orang yang baik karena memiliki tanggung jawab yang besar, sehingga saat ada kegagalan kita merasa bersalah. Akan tetapi jika kita tidak segera memaafkan diri sendiri, itu juga sama artinya dengan berjalan di luar jalan Tuhan.
Munafik? Kehendak Tuhan seringkali berbeda dengan kehendak kita. Saat kita melakukan sesuatu yang berbeda dengan kehendak kita, memang seolah kita itu munafik. Inginnya berpacaran dengan si B, tapi mengaku benci dengan B. Munafik, bukan? Dengan kata lain menipu diri sendiri.
Tetapi Alkitab mencatat bahwa daging itu lemah. Maka harus didisiplin. Teori psikologi mengatakan, bahwa jika terjadi pertentangan antara keinginan daging dan kemauan untuk berdisiplin, maka yang sering kita lakukan berulang-ulanglah yang akan jadi kebiasaan kita. Awalnya, mengikuti kehendak Tuhan mungkin berat dan tidak menggugah selera. Akan tetapi jika kita berdisiplin dan melakukannya berulang-ulang, maka akan muncul kebiasaan kita yang seturut dengan kehendak Tuhan. Muncul kebiasaan baru, kebiasaan yang sesuai dengan maunya Tuhan.
Nah, sudah siapkah Anda memasuki tahun ini dengan berjalan di jalan Tuhan? Rumusnya satu, ”Balik kanan, majuuuuuuuuuu jalan!!!!”
TV/TI =KAWAN ATAU LAWAN?
TV/TI =KAWAN ATAU LAWAN?
(dipresentasikan tanggal 15 Februari 2011)
Pengaruh Positif
Mendekatkan yang jauh
Bincang pakar
Pekerjaan menjadi ringan
Hasil survei
2005–>Anak menonton TV selama
30-35 jam/minggu atau 1560-1820 jam/ tahun
jam belajar di sekolah dasar tidak sampai 1000 jam/tahun.
Belum termasuk internet
PENGARUH NEGATIF
Kepribadian yang berbeda antara Off dan Online
“generasi bisu”
Menjauhkan yang dekat
Pengaruh terhadap otak
perkembangan bahasa
ekspresi
tidak bisa membedakan imajinasi dan kenyataan
Motivasi belajar menurun
Terbiasa dengan multimedia
Konsentrasi terganggu
Kreativitas kurang
Obesitas
Kurang waktu untuk bercengkerama
Kurang sentuhan fisik
Matang seksual lebih cepat/pornografi
Teknologi Di Alkitab
IP= teori
Teknologi =terapan
=ide manusia : berdosa atau dipulihkan
Beberapa teknologi di Alkitab
Nuh membuat bahtera
Musa membuat tenda
Salomo membuat istana
Teknologi Rusak di Alkitab
Babel
Salomo gemerlap jatuh dalam wanita
Yesus mengecam penggunaan Bait Suci
Pengaruh TV terhadap Spiritual
Krisis sosial-ekonomi
Krisis media :pornografi, HUS tidak alami,penonton dan tidak berdoa
Krisis mental :kompromi dengan dunia,merendahkan orang lain
SIKAP ORANG KRISTEN
Yesus menerima perubahan (Matius 9: 16-17)
Kemajuan IPTEK dipandang sbg amanat Tuhan (Kejadian 1:28)
Mata dan telinga tidak pernah puas (Pengkhotbah 1:8,Amsal 27:20)
Mata itu pelita tubuh (Matius 6 :22-23)
Dari mata turun ke hati
Cungkil dan penggal (Matius 5:29-30)
HATI-HATI GUNAKAN MATA
Hati-hati gunakan matamu
Hati-hati gunakan matamu
Allah Bapa di Sorga
melihat kita semua
Hati-Hati gunakan matamu
CARA
Didik anak saat
tidur,
bangun,
perjalanan
TEKNIS
Letakkan TV di lalu lintas
Jangan buat kegiatan menonton sebagai hadiah
Tarik anak ke dunia nyata
“Remote di tangan anak”
Jadi pengendali
SIAPA YANG HARUS MENGURANGI?
Seluruh Anggota keluarga
Anak Peniru ulung
Anak di bawah 12 tahun, pengambilan keputusan belum matang
1 Tesalonika 3:10
Faca to face, tak tergantikan karena dg f 2 f:
Terhibur
Hidup kembali
Endorfin mengalir
tenang
Kadar oksitosin meningkat
Selamat menggunakan TI/TV
dengan cerdas
Stimulasi Kecerdasan Anak Menggunakan TI
Memberikan stimulasi kepada anak,memang dapat dilakukan dengan cara alami sampai menggunakan Teknologi Informasi.
Buku ini menyajikannya dengan lengkap
Karena Anda adalah pemerhati anak,maka segera saja buku ini dimiliki
salam
CINTA INI MENGHIDUPKANKU -dimuat di majalah BGKIM edisi Desember 2010
CINTA INI MENGHIDUPKANKU
Cinta ini membunuhku?
Pasti akhir-akhir ini Anda sering mendengar kabar, tentang banyaknya peristiwa tragedi yang mengatasnamakan cinta. Ada seorang ibu yang membunuh anak-anaknya sebelum dia sendiri bunuh diri. Dari surat yang ditemukan di dekatnya, dapat diketahui bahwa ia melakukan perbuatan itu demi cinta! Katanya, daripada ia melihat anak-anaknya hidup menderita karena miskin, mendingan ia membunuhnya. Banyak kasus lain yang serupa. Seorang istri yang berwajah melankolis, menjadi gelap mata saat mendengar kabar suaminya berselingkuh. Daripada melihat suaminya hidup dengan orang lain, lebih baik ia kehilangan suaminya selamanya. Maka kemudian ia memutilasi suaminya. Saat diwawancara oleh media, ia mengatakan bahwa ia sangat mencintai suaminya. Justru karena itu, ia tidak rela suaminya hidup berpaling darinya.
Saya jadi ingat dengan kata-kata yang sering didengungkan oleh masyarakat, yaitu : ’cinta ini membunuhku’. Benarkah begitu? Dari banyak buku yang saya baca, dikatakan bahwa cinta adalah emosi yang positif. Apa artinya? Cinta sejati tentu menghidupkan dan bukan membunuh! Cinta memunculkan adanya harapan, dan bukan ke-putus asa-an.
Harapan
Joice McFadden mengatakan, ada 2 hal yang mempengaruhi kita, yaitu harapan dan ketakutan. Ketakutan membatasi kita untuk berperilaku tertentu, sedangkan harapan menciptakan ruang dalam pikiran dan hati kita.
Misalnya saja, saat kita tiba-tiba bertemu dengan binatang buas dan mematikan. Kita akan takut, bukan? Pada saat begitu, tubuh dan perasaan kita pasti dalam kodisi siaga dan waspada. Hanya ada dua pilihan, yaitu menantangnya atau melarikan diri. Begitu juga dengan kita, jika meghadapi peristiwa dengan takut. Jika kita menantangnya, maka kemarahan ada di wajah kita. Kalau kemudian kita memilih melarikan diri dari persoalan yang ada, itu berarti ketakutan yang menyelimuti kita, bukan harapan apalagi cinta!
Ketakutan yang berlebihan menyebabka seseorang menjadi tidak sehat secara psikis. Ia akan banyak curiga dengan orang lain, tidak percaya diri, sering memiliki dugaan yang salah dan berperilaku kasar. Ngomong-ngomong, apakah Anda kenal dengan orang yang memiliki sikap seperti itu? Jangan-jangan itu karena ia mengalami ketakutan.
Lantas, apa bedanya dengan harapan? Pada peristiwa yang sama, seseorang yang memiliki harapan akan lebih bersahabat dengan dirinya sendiri dan dunia di sekitarnya. Sehingga ia bisa berpikir jernih dalam mengatasi masalah dan punya keiginan untuk maju. Harapan membuat orang yakin, bahwa ada pelangi sehabis hujan. Ada titik terang di ujung lorong.
Memang, ketakutan itu datang dengan tepat waktu. Setiap ada masalah, maka rasa takut segera menghampiri kita. Namun, harapan sering datang terlambat. Ia perlu dipupuk sejak anak masih kecil. Harapan akan ada, jika kita mau menerima dukungan dari orang lain, dan aktif mencari jalan keluar. Tidak ada harapan yang bisa muncul dengan satu kali “klik”.
Memupuk Harapan
Sejak kecil, orangtua hendaknya memberikan lingkungan yang aman bagi anak-anaknya. Sehingga anak-anak tidak mengalami ketakutan yang tidak perlu. Biarkan anak merasa aman jika bersama orangtua. Biarkan anak berani mengungkapkan kegagalan dan kesalahannya pada orangtua. Tentu saja, salah adalah salah. Kalau ia tidak belajar, sudah sepantasnya orangtua marah. Namun orangtua tetap memberi “ruang untuk salah” pada anak-anak, sehingga anak tidak selalu hidup dalam rasa takut. Justru dari kesalahannya,ia dibantu untuk menjadi lebih baik.
Anda,suka menabung uang? Itu sikap yang baik. Tapi, pernahkah Anda menabungkan keberhasilan untuk anak-anak Anda? Bagaimana caranya? Anda harus sering menjuluki anak Anda sebagai seorang juara, pemenang dan selalu berhasil. Tentu saja anak kita tidak selalu juara matematika dan berhasil di sekolahnya. Tetapi, jika ia tidak mencontek saat ulangan, Anda harus menepuk bahunya dan mengatakan,”Kamu hebat, karena selalu jujur! Kamu juara kejujuran!” Saat ia mendapat nilai 100 untuk ulangannya, walau harus ia tempuh beberapa kali remidi, Anda serukan untuknya,”Kamu pemenang!”
Dengan adanya tabungan keberhasilan, kelak saat ia dewasa dan menemui persoalan, ia pun akan selalu punya harapan bisa mengatasinya. Ia akan mengingat, toh dulu ia juga selalu berhasil,bukan? Jadi, kali ini pun, ia pasti bisa berhasil!
Pecah tujuan yang besar menjadi tujuan yang kecil. Ini adalah cara berikutnya, agar kita memiliki harapan. Misalnya saja, saya bercita-cita menjadi penulis hebat. Saya akan kehilangan harapan jika hanya melihat cita-cita saya yang tinggi itu. Akan tetapi jika saya memecahnya mejadi tujuan yang mudah dilakukan, saya akan punya harapan. Cita-cita itu misalnya saya pecah menjadi latihan menulis di buku harian, kemudian menulis untuk majalah dinding sekolah, menulis di facebook, dan….menulis di BGKMI! Karena tujuannya kecil-kecil dan sangat praktis,maka saya memiliki semangat meraihnya, saya merasa bisa. Itulah harapan!
Agar harapan selalu menyala, maka kita jangan terpaku pada satu tujuan.Ciptakan banyak alternatif tujuan dan alternatif cara mencapainya. Misalnya saja, kalau tidak berhasil juga untuk jadi penulis, saya punya cita-cita “cadangan” ,yaitu ingin bekerja di bidang marketing atau menjadi guru atau menjadi ibu rumah tangga yang telaten mengasuh anak-anak. Nah, dengan banyaknya alternatif, kita tidak akan kehilangan akal alias tetap memiliki asa/harapan!
Bagaimana jika tetap gagal? Maka carilah penyebab kegagalan yang dapat kita atasi dan bukan fokus pada penyebab yang di luar kontrol kita. Saya gagal menjadi penulis, karena ada dua alasan utama, yaitu tulisan saya tidak bagus dan penerbit tidak suka dengan saya (misalnya). Maka daripada saya menangisi nasib saya yang tidak disukai penerbit, mendingan saya fokus untuk berlatih, agar tulisan saya semakin bagus.
Carilah dukungan dari orang lain, agar kita makin optimis. Bisa saja dengan cara, saya meminta saran dari para penulis yang sudah berhasil. Saya meminta dukungan dari mereka agar saya tetap optimis. Mendengar masukan-masukan dan pengalaman jatuh bangunnya mereka, pasti akan membuat saya semakin memiliki harapan,bahwa saya pun bisa!
Cinta Tuhan Penuh Harapan
Tentu Anda paham, sebagai pengikut Tuhan Yesus, kepada siapakah kita bisa meminta dukungan yang penuh? Ya, tentu saja kepada sumber cinta dan sumber harapan, yaitu kepada Tuhan Yesus sendiri.Kita akan kecewa jika selalu bergantung pada orang lain. Mereka pun bisa saja kehabisan harapan. Jadi daripada repot, kita minta saja langsung dari empunya harapan, yaitu Tuhan Yesus. Toh kita punya saluran khusus untuk menghubungiNya,bukan?
Cinta Tuhan berbeda dengan cinta dunia yang membunuh. CintaNya justru menghidupkan. Orang yang sudah mati saja, dengan kasihNya ia jadikan hidup kembali. Masa’ kita yang sudah hidup, ingin mati?
Saya ingat betul salah satu lagu Sekolah Minggu favorit saya, yaitu “Sbab Dia Hidup.” Mari,Pembaca, kita nyanyikan bagian reff-nya :
“S’bab DIA hidup, ada hari esok
S’Bab DIA hidup, ku tak gentar
Kar’na ku tahu, DIA pegang hari esok
Hidup jadi berarti, s’bab DIA hidup!”
Bulan ini, kita merayakan Natal. Tentu kita tidak perlu berdebat, tanggal berapa tepatnya Natal itu. Justru yang perlu dijawab adalah, apakah kita menyambut tawaranNya untuk hidup dengan penuh harapan? Bayi mungil yang dulu lahir di kandang itu, sekarang menjadi Raja segala raja. Ia sumber harapan. Mintalah, maka kita pasti diberi harapan itu.
Oya, Anda pasti sering membaca tentang makna huruf “O” ,bukan? Huruf O berarti Opportunity (=kesempatan).
Pada kata YESTERDAY tidak ada huruf “O” berarti KEMARIN sudah tidak ada kesempatan lagi
Pada kata TODAY ada 1 huruf “O” berarti HARI INI masih ada 1 kesempatan lagi.
Pada kata TOMORROW ada 3 huruf “O” berarti BESOK masih ada banyak ckesempatan Ada banyak harapan! TUHAN telah menawarkan CintaNya yang menghidupkan kita dnegan harapan. Anda mau menerimanya? Selamat Natal, selamat berpengharapan!
Bacaan
Seligman, E.P. & Jane Gillham. (2000). The Science of Optimism and Hope: Research Essays in Honor of Martin E.P. Seligman. Philadelphia: Templeton Foundation Press.







